2015 in Books

It’s been quite a while since the last time I posted something here. 2015 was a weird year for me on so many levels. For reading life, I set a goal to read 45 books in 2015. The goal was set under the precedent that I could read more than 40 books in 2013 and 2014. I was so confident that reading more than 40 books in a year was a piece of cake. But then lots of thing happened and I began to realise that reading 45 books in a year was impossible.

First quarter of 2015 went well. I could finish some books easily. Problem arose in the second quarter of 2015. For some reasons, I began to struggle on reading books, especially the thick ones. My attention span was short and I was easily distracted. Therefore, I read on and off and switched books a lot. Things didn’t go well until the third and last quarter of 2015. Instead of sticking to any books that I planned to read, I switched a lot, left many books half-read or only slightly read. I kept buying books because I thought my hundreds something unread books couldn’t cure my reading slumps so I kept looking at new ones, wishing the new piles could save me.It didn’t save me from my reading slumps. And the new piles will soon be forgotten in my cramped room. I came to the epiphany that reading slump is as real as quarter life crisis. It seems like a myth, but once you catch it, it’s very hard to escape.

 

1933555_10204720398244018_4601301489207651913_o

Put the failed-to-achieve-reading-goal aside, 2015 was somewhat a more satisfying year than in 2014. I read 37 books and my average rating for them was 3.6 stars. It means that most of the time I like the books I read, probably gave 3-4 stars in general. I find it a bit difficult to decide the top 5 books for 2015. Some books were hauntingly beautiful and made me left so overwhelmed with profound emotions than I had with some people ūüėÜ But here’s my top 5:

  • A Little Life – Hanya Yanagihara
  • The Narrow Road to the Deep North – Richard Flannagan
  • Trigger Warning – Neil Gaiman
  • An Astronaut’s Guide to Life on Earth – Chris Hadfield
  • Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

1609995_10204720391483849_259663040931919951_n

I also read more short-stories in 2015. Thanks to my reading slumps and my short attention span that made me read 6 short-stories collections, 4 are from Indonesian writers and other 2 are from Neil Gaiman.

Compared to previous years, I also read more Indonesian books. Most of them are shot stories collections though. Two of books are debut novels (“Kahve” by Yuu Sasih and “Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth” by Pandu Hamzah), not really brilliant (plot holes here and there) but still quite enjoyable reads and most importantly, not chic lit. Generally, I am okay with chic lit, but there are too many local chic lit right now, some people really need to write something other than that.

Books that did not make to my top 5 list but made me very heart-broken: “Kitchen” by Banana Yoshimoto and “Me and Earl and the Dying Girl” by Jesse Andrews. I rarely cried. I didn’t even cry when I read “A Little Life” but I cried reading those books. Both books are not typical heart-breaking stories, but my INTJ heart was really touched with the stories *sigh*

Despite the low quantities of books that I read, I find them satisfying. Well, not all of them (“Supernova” by Dee and “Angin Bersyair” by Andrei Aksana were total rubbish IMO). But, mostly they’re beautifully written and good companions during 2015. For 2016, I decided to lay low on setting the reading goal. My goal is only to read 25 books but hopefully with more diversified genre and authors.

‚ÄúThere are things that wait for us, patiently, in the dark corridors of our lives. We think we have moved on, put them out of mind, left them to desiccate and shrivel and blow away; but we are wrong. They have been waiting there in the darkness, working out, practicing their most vicious blows, their sharp hard thoughtless punches into the gut, killing time until we came back that way.‚ÄĚ
‚Äē¬†Neil Gaiman,¬†Trigger Warning: Short Fictions and Disturbances

 

Advertisements

Sincerely Yours

Inge belum mandi sejak tadi pagi. Piama yang dia kenakan sudah kumal dan berumur sehari.

Sekar Wangi Tambanglaras, seorang penulis novel thriller berusia 24 tahun, lebih suka dipanggil Inge. Inge tinggal sendiri di sebuah rumah di daerah Sentul. Di Sabtu sore, telepon rumahnya yang lebih mirip sebagai barang pajangan berdering. Telepon di Sabtu sore itu yang kemudian membawa Inge berkenalan dengan Alan Anugrah, seorang kontraktor yang cukup dikenal di perumahannya.

Pertemuan pertama Inge dan Alan begitu mengesankan untuk Inge. Inge sempat mengira semua pria-pria zaman sekarang kebanyakan muram, dingin, sulit didekati, dan penuh teka-teki. Namun, Alan begitu lain, begitu sopan, ramah, dan domestik. Bagi Alan, pertemuan pertamanya dengan Inge membuatnya merasa begitu senang dan bersemangat. Alan sungguh tidak sabar untuk menemui Inge lagi.

—–
Dari blurb di bagian belakang cover, saya sekilas tahu bahwa saat Inge dan Alan bertemu, Alan sudah memiliki seorang kekasih. Cerita macam ini bukanlah jenis cerita yang saya suka, karena saya tahu saya akan sulit berempati kalau tokoh utamanya adalah pihak ketiga. Tapi, mengingat saya cukup menyukai cara Mbak Tia menulis di “Mahogany Hills” saya pun nekad untuk tetap membeli dan mencoba membaca buku ini.

Kita begitu berbeda dalam semua.
Kecuali dalam cinta.

Potongan puisi Sebuah Tanya milik Soe Hok Gie terpampang di bagian pembuka “Sincerely Yours” sehingga membuat saya bertanya-tanya perbedaan seperti apa yang ada antara Inge dan Alan atau mungkin antara Alan dan Ruby. Saya sempat berpikir apa jangan-jangan Alan dan Ruby memiliki perbedaan entah apa yang membuat Alan menyerah dan akhirnya tergoda untuk bersama Inge atau malah Inge dan Alan yang berbeda entah apa hingga membuat Alan tetap harus bersama Ruby. Tapi, rupanya saya salah, ceritanya ga seperti itu.

Ceritanya kurang lebih tentang Inge dan Alan yang sering bersama dan sepertinya saling menyukai satu sama lain, tapi karena banyak hal, hubungan mereka berjalan dengan lambat sekali. Inge memilik trauma masa lalu dan terlalu banyak berpikir. Alan yang masih memiliki kekasih super sibuk dan juga sama-sama terlalu banyak berpikir. Jadi, intinya, dua-duanya overthinking padahal ada romantic tension yang subtil tapi berkelanjutan (halah).

Secara cerita sebenarnya premisnya biasa aja, tapi saya suka karakterisasinya. Tidak ada karakter yang terlalu baik dan tidak ada juga yang jahat. Semua memainkan porsi masing-masing dengan pas. Memang ada beberapa nama yang hanya disebut sesekali saja, tapi saya rasa itu oke-oke saja, karena toh saya pasti akan sebal kalau disajikan deskripsi tentang Pak Ibrahim atau Diah dan Rina secara mendetail padahal tidak terlalu berkontribusi terhadap hubungan Inge dan Rina.

Secara karakter, saya suka Inge. Sedikit labil sih, tapi saya rasa masih dalam batas kewajaran mengingat Inge masih muda dan harus mengalami kejadian-kejadian tidak mengenakkan. Untuk Alan, meskipun saya juga sempat sedikit naksir di awal, tapi somehow semakin membaca soal Alan, saya malah jadi biasa saja dan tak terlalu terkesan. Bagi saya Alan sekadar pria baik (yang baiknya juga standard aja sih) dan pekerja keras, tapi terlalu mudah terbawa perasaan. Tapi sih titik ilfilnya waktu Alan memutuskan Ruby di jam makan siang di hari kerja, padahal dia tahu Ruby super sibuk. I was like, “dude, I thought you’re more thoughtful!” Sementara itu untuk Ruby dan Meta, saya suka mereka yang tidak terlalu cengeng ataupun drama mungkin bagusnya emang ga sama Alan! Saya juga cukup memahami perasaan Bu Linda dan saya tidak bisa untuk membencinya sama sekali.

Dari gaya menulis, duh, saya sih fans Mbak Tia kalau sudah urusan menulis deskripsi dan penggunaan diksi. Saya yang sedang agak demam sampai berakhir membuat pop mie karena terbawa perasaan saat membaca deskripsi Inge yang sedang makan mie. Juga sampai ngecek aplikasi GoFood untuk mencari sup iga, semua hanya karena deskripsi yang mengalir dan jelas -___- Bisa dikatakan, cara menulis Mbak Tia ini yang menjadi kekuatan utama dari “Sincerely Yours.” Coba misalnya “Sincerely Yours” ditulis dengan “lo-gue”, mixo-lingo, dan tebaran merk barang mewah di mana-mana, saya pasti sudah berhenti membaca sejak bab pertama. Saya juga suka sekali karena “Sincerely Yours” tidak kebanyakan dialog, jadi saya tidak seperti sedang membaca skrip sinetron. Terakhir, meskipun tidak terlalu banyak kalimat yang quotable macam si novel yang lagi populer itu , kalimat-kalimat yang ada cukup puitis tapi tidak lebay. Ibaratnya minuman, “Sincerely Yours” itu semacam teh apel, tidak terlalu manis, tapi menyegarkan dan meninggalkan after taste yang ringan.

Angin dingin berembus sekali lagi, menerbangkan dedaunan yang sudah cokelat dan mengering. Di langit, purnama bersinar terang sekali.

Judul : Sincerely Yours
Bahasa : Indonesia
Pengarang : Tia Widiana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2015
Tebal : 246 halaman
Harga : IDR 57,000.00

Sputnik

“And it came to me then. That we were wonderful traveling companions but in the end no more than lonely lumps of metal in their own separate orbits. From far off they look like beautiful shooting stars, but in reality they’re nothing more than prisons, where each of us is locked up alone, going nowhere. When the orbits of these two satellites of ours happened to cross paths, we could be together. Maybe even open our hearts to each other. But that was only for the briefest moment. In the next instant we’d be in absolute solitude. until we burned up and became nothing‚ÄĚ – Murakami Haruki in Sputnik Sweetheart.

Sputnik Sweetheart is not the first Murakami novels I’ve read, nor it’s my favourite one. But the characters are loveable and there are many passages which are achingly beautiful.

For people who just start reading Murakami, I recommend this one as it’s an easy read and not as thick as other Murakami famous works.

Kitchen

image

Aku tidak bisa tidur di tempat lain selain dapur.

Mikage Sakurai kehilangan orang tuanya sejak kecil. Sejak itu, ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Saat SMP, kakeknya meninggal dan ia hanya tinggal berdua saja dengan neneknya. Selama tinggal berdua dengan neneknya, ia terkadang khawatir bahwa neneknya akan meninggal. Kemudian kekhawatiran itu pun menjadi nyata. Neneknya meninggal dan Mikage menjadi hilang arah. Ia tidak bisa tidur di kamarnya. Ia pun mencari-cari tempat agar bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya ia mendapati bahwa ia bisa tidur dengan lelap di dekat kulkas yang mendengung mengusir sepi di benaknya.

Mikage merasa bahwa apartemen yang pernah ia tinggali bersama neneknya tersebut terlalu luas dan membuatnya merasa sepi teramat dalam. Ia memutuskan untuk pindah ke apartemen yang lebih kecil. Suatu sore di musim semi yang mendung, Yuichi Tanabe, staf toko bunga langganan neneknya datang berkunjung dan meminta Mikage untuk bertamu ke rumahnya. Sore itu yang kemudian membawa Mikage masuk ke dalam kehidupan Yuichi Tanabe dan ayahnya yang bertransisi menjadi wanita bernama Eriko Tanabe.

—-

Sudah sejak lama saya ingin membaca “Kitchen” tapi entah mengapa saya seringkali lupa untuk membeli bukunya. Sampai akhirnya Sabtu lalu, saat saya sedang berkeluyuran sore di Blok M, saya tidak sengaja menemukan buku ini dan membelinya tanpa berpikir panjang. Minggu sore saya mulai membacanya dan tidak bisa berhenti hingga waktu bergerak ke Senin dini hari.

Saya bukan orang yang mudah menangis dan saya jarang sekali menangis karena film ataupun buku. Tapi, malam itu saya menangis karena “Kitchen”. Entah karena saya sedang terlalu sensitif (yang sebenarnya juga jarang terjadi) atau memang kisah Mikage ini menyedihkan, yang jelas saya menangis dan merasa pedih membaca buku ini.

Ini kali kedua saya membaca buku Banana Yoshimoto dan saya akui “Kitchen” jauh lebih bagus dari “The Lake.” Sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang orang pertama dari sisi Mikage dan itu membuat saya bisa berempati dengannya saat ia pada akhirnya kehilangan keluarga satu-satunya.Narasinya begitu indah dan mengalir. Saya pun suka bagaimana sosok Yuichi dan Eriko digambarkan.

Saya suka sekali bagaimana cerita dibuka dengan satu pernyataan Mikage tentang kesukaannya terhadap dapur. Perkembangan cerita dan hubungan antara Mikage dan Yuichi digambarkan dengan perlahan dan manis, tapi tidak terlalu mendayu. Untuk endingnya, saya sungguh puas dan meskipun terkesan subtil tapi bagi saya itu sangat pas sekali untuk mereka berdua.

Sebenarnya selain “Kitchen” di buku tersebut juga ada cerita lain berjudul “Moonlight Shadow” yang menceritakan Satsuki, perempuan usia 20 tahun, yang kehilangan kekasihnya, Hitoshi. Premisnya sederhana, tapi lagi-lagi, Banana Yoshimoto bisa menyajikannya dengan manis dan getir di saat bersamaan. Membaca keduanya memang sedikit membuat depresi, tapi sungguh penceritaannya begitu indah dan manis. Dan terakhir, saya akui, kualitas terjemahannya bagus sekali. Sekiranya tidak diterjemahkan dengan apik, mungkin pengalaman membacanya tidak akan semengesankan ini.

Untung dan sial adalah hal biasa, tapi mempercayakan diri kepada peruntungan semacam itu adalah sikap manja. Berpikir seperti itu pun kepedihan tidak akan berkurang. Setelah menyadari hal itu, meskipun ingin menolak aku telah menjadi orang dewasa yang bisa terus menjalani kehidupan ini dengan menerima kejadian buruk. Walaupun demikian hidup memang tidak mudah. – Kitchen, Banana Yoshimoto.

Judul : Kitchen
Bahasa : Indonesia
Pengarang : Banana Yoshimoto
Penerbit : KPG
Terbit : April 2009
Tebal : 204 halaman
Harga : IDR 20,000.00 (Bursa Buku Murah Blok M)

Membaca Pram #1

Sudah dua bulan terakhir saya mengalami¬†reader’s block¬†yang membuat saya kehilangan¬†pace¬† membaca saya dari kurang lebih empat buku selama sebulan hanya menjadi satu buku atau tidak sama sekali. Saya tetap berusaha untuk membaca, ke mana-mana saya tetap membawa buku dan menyimpan e-book di hape saya. Tapi, hasilnya tetap parah dan sangat lambat. Baru minggu lalu akhirnya¬†reading pace¬†saya kembali lagi karena sebuah buku yang telah membuat saya penasaran selama bertahun-tahun, yaitu Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer atau biasa dikenal sebagai Pram saja.

Penantian yang tidak sia-sia.
                                        Penantian yang tidak sia-sia.

Banyak orang begitu mengelu-elukan Tetralogi Buru karya Pram ini dan saya begitu penasaran dibuatnya. Saya mendapat impresi seakan setiap ada orang yang suka membaca dan belum membaca Pram jadi sia-sialah bacaannya. Awal Agustus lalu akhirnya saya berkesempatan memiliki Tetralogi Buru yang baru saja diterbitkan ulang oleh Lentera Dipantara. Saya pun langsung mencoba membacanya.

“Bumi Manusia” diawali dari cerita Minke tentang dirinya dan kegiatannya sebagai pribumi yang bersekolah di HBS Surabaya. Minke kemudian diajak Robert Surhoof, teman sekolahnya, untuk bertamu ke rumah keluarga Mellema di Wonokromo. Di sana, Minke berkenalan dengan keluarga Mellema;Robert Mellema, si sulung yang tampak tak pedulian, Annelies Mellema, si bungsu yang cantik dan kekanakan, dan Nyai Ontosoroh, ibu dari Robert dan Annelies, yang merupakan gundik dari Herman Mellema.

Minke begitu terpesona dengan kedua wanita di rumah Wonokromo tersebut. Minke tidak menyangka bahwa Nyai Ontosoroh, seorang gundik yang sering dianggap sebelah mata oleh banyak orang, ternyata lebih terpelajar ketimbang semua wanita -baik Pribumi, Indo Eropa, ataupun Eropa Totok- yang pernah ia temui.Dan Annelies, Annelies begitu cantik, rapuh, polos, dan kekanakan membuat Minke tidak bisa berjauhan dengannya. Minke, atas undangan Nyai Ontosoroh, akhirnya tinggal di rumah Wonokromo dan sejak itu pun hidupnya perlahan mulai berubah.

Pada awalnya saya khawatir saya akan bosan dan tidak cocok dengan gaya bahasanya. Rupanya saya salah besar. Saya begitu hanyut dalam deskripsi dan alur cerita Bumi Manusia.

Meskipun sebenarnya fokus utama cerita ada pada percintaan Minke-Annelies, saya suka sekali bagaimana keadaan dan pandangan orang-orang di zaman tersebut diceritakan di dalamnya, seperti soal segregasi antara Pribumi, Indo, dan Eropa Totok misalnya.

Dari segi penokohan, tokoh-tokoh di dalamnya berkembang dengan baik dan tidak hitam putih semata. Nyai Ontosoroh yang begitu cerdas dan kuat pun punya kelemahan. Minke seorang Jawa dengan pendidikan Eropa pun tetap tidak bisa murni terbebas dari akar kejawaannya. Annelies Mellema yang begitu manja, kekanakan, dan sulit sekali membuat saya berempati padanya, pada akhirnya pun menunjukkan kekuatannya sendiri.

Membaca “Bumi Manusia” membuat saya merefleksikan banyak hal di sekitar saya. Seperti Minke, saya juga berdarah Jawa tetapi tidak dididik dengan budaya Jawa yang kental. Seperti Nyai Ontosoroh, saya juga memiliki keinginan yang kuat untuk mandiri, tapi tetap ingin menjaga sisi-sisi lembut seperti Bunda Minke. Belum lagi persoalan lainnya soal memajukan diri agar setara dengan bangsa yang lebih maju, dalam cerita ini, Belanda. Benar-benar layak dibaca.

“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.‚ÄĚ

–¬†Nyai Ontosoroh pada Minke.

Judul : Bumi Manusia
Bahasa : Indonesia
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Terbit : Juni 2015
Tebal : 535 halaman
Harga : IDR 132,000.00

Us

‚ÄúI’m aware that couples tend to embellish ‘how we met’ folklore with all kinds of detail and significance. We shape and sentimentalise these first encounters into creation myths to reassure ourselves and our offspring that it was somehow ‘meant to be’.‚ÄĚ Us¬†by¬†David Nicholls

I’ve been reading “Us” for the last few days. I didn’t really know what it’s about. I thought it was about a young couple facing something in their relationship or perhaps about two friends who like each other but things always get in their way like in “One Day”. It turns out about a middle age couple in a shrinking marriage. It’s not the kind of romance most youngsters like me seek of, but well so far I enjoy it. It’s slow pace and sometimes I can’t relate with Douglas (I haven’t married yet after all, how I am supposed to know about the little knick knacks of it), but it’s sweet in its own way and somehow makes me think about the details of married life.

I haven’t finished the book and it’s so unlikely to be finished soon as my reading pace is slow. I don’t know wether it’ll be sad or happy ending, nor I even know what it actually is about (rekindle the love and passion? try to accept the changes? or is it only just a phase?) No matter what, I hope it’ll be more enjoyable and captivating!

Reading Life: April

Dari segi jumlah, saya mengalami kemajuan dalam kehidupan membaca saya. April lalu saya berhasil menyelesaikan membaca empat buku. Meski demikian, kalau dari segi halaman, yaaah nggak seberapa. Buku yang saya baca adalah dua novel dan dua kumpulan cerpen yang tebalnya kurang dari 200 halaman.

My Year of Meats – Ruth Ozeki

Dibaca kurang lebih dalam waktu tiga mingguan. Buku ini bercerita tentang Jane Takagi-Little dan tahun yang dihabiskannya dengan daging (thus the title). Jane membuat acara televisi untuk audiens Jepang tentang istri-istri Amerika dan resep daging favorit mereka. Acara tersebut disponsori oleh grup pelobi daging sapi dengan harapan penjualan daging sapi dari Amerika Serikat akan meningkat di Jepang.

Ceritanya ga melulu soal Jane dan pekerjaannya, tapi juga soal Jane dan kehidupannya. Selain Jane, ada juga Akiko, istri dari boss Jane dan beberapa wanita lainnya. Yang paling menarik dari buku ini adalah karena Ozeki juga mengupas bagaimana industri daging dijalankan di Amerika Serikat. Terkadang saya sedikit merasa bahwa ini upaya Ozeki untuk mengubah orang menjadi vegetarian, tapi saya mengambil sisi positif saja bahwa Ozeki hanya ingin orang tahu apa sebenarnya yang mereka makan.

Setelah membaca buku ini saya memang sempat enggan makan daging dan berakhir mencari tahu soal industri daging di Indonesia. Dari buku ini, muncul diskusi-diskusi menarik bersama orang-orang terdekat saya, tidak hanya soal industri daging, tapi juga merambah ke peternakan dan pertanian. A really good book to start discussions!

Rating: 4 dari 5 bintang

Filosofi Kopi – Dee

Tadinya membaca kumcer ini karena ada niatan untuk menonton filmnya. Tapi setelah membaca malah jadi malas nonton. “Filosofi Kopi” adalah judul cerpen pertama di buku kumcer ini. Menurut saya sih kalau sebuah cerpen dijadikan judul utama sebuah kumcer harusnya bisa meninggalkan kesan yang kuat. Tapi dalam kasus “Filosofi Kopi” sih nggak. Selesai membaca cerpen “Filosofi Kopi” kata yang keluar cuma satu “kentang.” Dan di situ saya merasa heran kenapa cerpen ini difilmkan.

Beberapa cerpen lainnya cukup menarik, tapi sejujurnya saya cukup kecewa karena selain “Filosofi Kopi” tidak ada lagi cerpen lain yang bertemakan kopi.

Rating: 3 dari 5 bintang

Pesan untuk Kekasih Tercinta: Kumpulan Cerpen Esquire Indonesia #2

Lagi-lagi saya membaca kumcer di akhir pekan. Kumcer ini ringan sekali dan selesai dibaca pagi-pagi sekali sebelum saya bepergian. Semua tokoh utama di kumcer ini adalah pria dan dengan berbagai profesi. Latar tempatnya di perkotaan dengan berbagai intrik dan kerumitan masing-masing tokoh. Saya tidak terlalu ingat cerpen-cerpen yang ada di kumcer ini, kecuali satu yang berjudul “Gang Mawar” dan memberikan aroma bittersweet seperti kota Jakarta.

Rating: 3 dari 5 bintang

Dark Places – Gillian Flynn

Ini adalah novel ketiga Gillian Flynn yang saya baca dan tentunya bertema gelap seperti Gone Girl dan Sharp Objects. Libby Day, wanita usia 30an, memiliki masa kecil yang kelam sebagai saksi pembunuhan atas keluarganya yang dilakukan oleh kakaknya sendiri, Ben Day. Libby yang saat itu masih berusia 7 tahun memberikan testimoni  bahwa Ben adalah pembunuh dari ibu dan dua kakak perempuannya. Ben yang saat itu berusia 15 tahun pun dinyatakan bersalah dan dihukum seumur hidup.

Sejak kejadian tersebut, hidup Libby timpang. Setelah selama ini hidup dari uang donasi yang terkumpul selagi ia kecil, sekarang ia harus menghadapi kenyataan bahwa uang yang tersisa hanya bisa membuatnya bertahan hidup kurang dari sebulan. Dalam kondisi tersebut, ia dihubungi oleh Killer Club, sebuah club yang mencoba memecahkan misteri dalam kasus pembunuhan. Killer Club meminta Libby untuk berpartisipasi memecahkan pembunuhan keluarganya dengan kompensasi tertentu yang akhirnya disetujui Libby. Hal ini yang kemudian membuat Libby harus kembali ke masa lalunya dan mempertanyakan kebenaran dari testimoninya mengenai Ben sebagai pembunuh keluarganya.

Dibanding Gone Girl, Dark Places lebih slow pace dan sedikit membosankan di awal-awal. Di bab-bab berikutnya banyak detail dari masa lalu yang harus diperhatikan. Sama seperti tokoh-tokoh dalam novel Flynn lainnya, tokoh utama tidak likeable dan sulit rasanya benar-benar berempati padanya. Tapi, seperti biasa, Flynn selalu berhasil membawa hal-hal tak terduga dari si tokoh utama.

Rating: 3,5 dari 5 bintang

Reading Life: March

Kehidupan membaca saya semakin terseok-seok karena kegiatan sosial yang semakin demanding. Saya yang biasanya membaca di malam hari sepulang kerja atau sebelum tidur, sekarang merasa kesulitan untuk melakukannya karena saya sekarang pulang lebih malam atau keburu kelelahan dan ingin segera tidur. Membaca pagi hari pun semakin jarang dilakukan, apalagi siang hari saat jam makan siang. Akhirnya status Goodreads saya pun selalu tertinggal beberapa buah buku dari jadwal seharusnya -____-

Selama Maret, akhirnya saya sukses menyelesaikan membaca tiga buku.

A Wild Sheep Chase – Murakami Haruki

Buku ini saya baca sejak akhir Februari dan akhirnya selesai di minggu pertama Maret. Sekilas tentang buku ini sempat saya tulis di postingan Februari. Di bagian-bagian akhir saya cukup suka dengan The Rat dan lebih punya emotional attachment dengannya ketimbang dengan si narator. Secara keseluruhan, bukunya cukup oke, tapi ga terlalu memikat seperti buku Murakami lainnya.

Rating: 3 dari 5 bintang

Fortunately, the Milk – Neil Gaiman (US Edition, illustrated by Skottie Young)

Buku yang ringan dan menyenangkan. Bercerita tentang seorang ayah yang menghabiskan waktu terlalu lama saat membeli susu ke toko pojok. Saat ia pulang, ia bercerita ke anaknya kalau ia pergi cukup lama karena tiba-tiba banyak hal terjadi padanya, termasuk bertemu dengan Profesor Stegosaurus yang bepergian dengan balon udara.

Sungguh buku ringan yang menyenangkan! Saya jatuh hati pada sang ayah yang kreatif nan jago ngeles. Anyway, selama membaca buku ini, saya terus menerus membayangkan sosok sang ayah adalah Neil Gaiman sendiri. Gambarnya pun mirip sih, pakai pakaian hitam dengan rambut berantakan ūüėÜ

Rating: 4 dari 5 bintang

Sang Golem dan Sang Jin – Helene Wecker

Buku ini dibeli secara impulsif saat saya berada di toko buku sembari menunggu teman saya datang dan saya sama sekali ga menyesal membeli buku ini. Memang agak sedikit gambling kalau membeli buku terjemahan, karena khawatir terjemahannya aneh dan mengurangi kenikmatan membaca. Tapi, buku ini diterjemahkan dengan baik dan luwes oleh Lulu Fitri Rahman.

Sang Golem, Chava, kehilangan tuannya di laut dan ia pun menjadi tak bertuan dan kehilangan arah tujuan. Sementara itu, Sang Jin, Ahmad, terikat dalam sosok manusia dan tak mampu mengingat mengapa ia berada dalam sosok tersebut. Keduanya berusaha menjalani kehidupan ala manusia meskipun jiwa mereka menginginkan hal lain.

Premis ceritanya menarik dan ditulis dengan gaya bahasa yang memikat. Terlepas dari valid atau tidaknya, banyak hal baru yang saya pelajari dari buku ini. Dan yang paling berkesan untuk saya dari buku ini adalah meski tokoh utamanya bukan manusia, tapi mereka terasa manusiawi sekali.

Rating: 4 dari 5 bintang

Reading Life: February

Buku apa saja yang sudah saya bereskan selama Februari? Nggak ada. Iya, saya nggak selesai baca buku sama sekali, hahahaha. Selesainya baca komik ūüėÜ

Emang parah banget sih Februari lalu. Padahal habis ambil block leave¬†yang mestinya banyak waktu untuk membaca, tapi akhirnya ya gitu deh¬†ūüėÜ Jadi, bukannya ada daftar buku yang telah dibaca, adanya cuma buku yang sedang dibaca. Nggak banyak sih, cuma dua saja dan itupun dengan kemajuan yang sangat lambat.

Arthur & George – Julian Barnes

Arthur & George

Buku ini saya baca sejak akhir Januari lalu. Dari 385 halaman, saya baru membaca kurang lebih 40an halaman saja. Soooo sloooow ūüėõ Dibaca karena iseng diambil dari tumpukan yang agak berdebu. Buku ini sudah “nangkring” di tumpukan sejak November 2013 dan sama sekali belum pernah dibaca. Dulu dibeli karena faktor penulisnya yaitu Julian Barnes yang gaya menulisnya membuat saya terpikat.

Sejauh saya membaca buku ini (yang sebenarnya baru sedikit banget sih), buku ini bercerita tentang kehidupan dua orang yaitu Arthur dan George. Arthur dan George berasal dari latar belakang yang berbeda dan juga memiliki pandangan dalam hidup yang berbeda. Jika kehidupan Arthur digambarkan cukup cepat dari proses ia remaja, dewasa, sampai pada akhirnya menikah, kehidupan George digambarkan dengan lebih lambat dan lebih detail di masa-masa ia sekolah.

Alurnya menarik dan gaya menulisnya ciamik. Satu-satunya yang menghalangi saya menyelesaikan buku ini adalah karena saya sering terdistraksi komik :mrgreen:

A Wild Sheep Chase – Murakami Haruki

A Wild Sheep Chase

Saya sebenarnya lupa kapan, di mana, dan mengapa saya membeli buku ini. But, well, whatever, toh saya memang suka Murakami. Selidik punya selidik ini adalah buku ketiga dari The Rat Series, seri buku yang sebenarnya jalan ceritanya berdiri sendiri tapi punya kesamaan dengan adanya The Rat. Sebelumnya saya sudah membaca buku keempat dari seri ini yaitu Dance Dance Dance dan menikmatinya.

Seperti biasa, Murakami selalu punya khas dalam ceritanya. Tokohnya adalah seorang narator tak bernama yang menceritakan hidupnya, hubungannya dengan rekan kerjanya, kekasihnya yang seorang model telinga, dan titik yang mempertemukannya dengan pria misterius yang memintanya mencari seekor domba dengan tanda bintang.

Dari 299 halaman, saya sudah membaca sampai ke halaman 135 sejak awal Februari. Alur lambat dan ada detail yang sedikit membingungkan jika tidak dibaca dengan jeli. Saya sempat bingung di bab tertentu apakah si narator atau The Rat yang sedang bercerita. Tapi, semua itu tertutupi dengan detail observasi dan ide yang tidak biasa (sejak kapan juga Murakami punya ide yang super biasa?) Kemungkinan besar, buku ini akan selesai di minggu pertama Maret ini. Kalaupun tidak, berarti ada buku lain yang mendistraksi saya dari kisah pencarian domba ini.

Wrap Up Weekend #3

Well, mungkin sudah nyaris sejuta tahun saya ga update blog ini. Ya, dan mungkin, sudah lebih dari dua juta tahun saat saya terakhir kali posting Wrap Up Weekend, yang niat awalnya akan ditulis tiap bulan. But, life happens and it seems that I never have enough time to all things I want(ed) to do. Done with the excuses, now I’m getting on the Wrap Up Weekend.

photo-7

Januari 2015, awal yang baik untuk mengira-ngira seberapa banyak buku yang akan selesai dibaca tahun ini. Bulan ini saya selesai membaca empat buku. Bukan jumlah yang bisa dibanggakan, tapi nggak jelek juga mengingat total halaman yang dibaca adalah 1400. Berarti kalau tiap bulan saya konstan membaca sebanyak itu bisa berarkhir dengan 16,800, yang tentunya melampaui rekor saya selama tiga tahun belakangan.

Sepanjang Januari, lumayan banyak komik yang dibaca sampai lose track (biasanya komik ga masuk ke Goodreads, kecuali kalau komiknya seinen/josei) dan males juga ngaduk-ngaduk tumpukan lagi untuk mengingat komik apa saja yang sudah dibaca.

Komik yang paling berkesan dibaca di bulan ini ada dua:

1.Our Summer Holiday¬†yang bercerita soal liburan musim panas dua anak SD. Bukan liburan musim panas biasa, tapi sulit dilupakan karena… karena… karena terjadi hal yang agak mengerikan. Meskipun covernya unyu-unyu gitu, tapi temanya berat, bikin ingat filmnya Koreeda yang Dare Mo Shiranai.

2. Beelzebub Vol.18 yang makin dodol dan heboh ga jelas. Di tiap volume pasti ada kedodolan aneh-aneh sih. Tapi volume yang ini dodolnya keterlaluan, terutama di bagian Manusia Nasi dan Kakek Centong. Untung bacanya di kamar, jadi ga keliatan aneh karena ketawa kenceng-kenceng.

Sementara itu, untuk buku yang dibaca bulan ini, rata-rata agak serius gimana gitu, kecuali Seri Jennings.

Mr. Commitment – Mike Gayle

Buku pertama di 2015! Sudah pernah baca dua buku Mike Gayle lainnya dan punya pendapat yang imbang: satu bagus dan satu nyebelin. Bukunya dibeli di diskonan lapak Gramedia Citywalk dan langsung dibaca di hari yang sama akibat males mikir baca yang berat-berat. Ternyata bagus juga. Tokoh-tokohnya likeable dan masalah yang dihadapi lumayan bisa saya pahami. Meski sempat sedikit terseok membaca di tengah-tengah buku, tapi akhirnya bisa diselesaikan dengan riang gembira.

Rating: 4 dari 5 bintang

Untung Ada Jennings – Anthony Buckeridge

Dulu sekali pernah baca Jennings Series ini, tapi ga terlalu ingat ceritanya. Kayaknya karena dulu lebih suka Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan Trio Detektif. Akhirnya baca Jennings Series lagi setelah main ke tempat teman dan dia punya ini. Ini buku ke-8 sih, tapi ya sudahlah. Ceritanya ga jauh-jauh dari keisengan Jennings dan teman-temannya di sekolah asrama¬†Linbury Court School. Yang paling berkesan dari buku ini adalah makian-makiannya yang ajaib, dari mulai “pancing peot”, “keju kaku”, dan “keju bulukan.” Jadi penasaran baca edisi Bahasa Inggrisnya ūüėÜ

Rating: 3 dari 5 bintang

On Such a Full Sea – Chang Rae Lee

Kalau bukan karena diskonan Periplus, mungkin saya ga akan terlalu sadar keberadaan buku ini. Ini pertama kalinya saya bukunya Chang Rae Lee, yang tampaknya cukup populer dalam menulis tema imigrasi, asimilisasi, dan kesepian. Awal tertarik baca karena merasa judulnya puitis banget plus suka sama covernya yang sederhana.

Seperti judulnya, kalimat-kalimatnya juga puitis. Bukan puitis menye-menye penuh cinta, tapi cantik aja gitu.

‚ÄúA tale, like the universe, they tell us, expands ceaselessly each time you examine it, until there is finally no telling exactly where it begins, where it ends, or where it places you now.‚ÄĚ

Di awal-awal ceritanya cukup memikat, tapi di sepertiga terakhir jadi membosankan dan membingungkan (I whined about this book almost everyday, I bet my friend hated me because of it). Untungnya terbayar dengan ending yang ga disangka-sangka.

Rating: 3 dari 5 bintang

The Girl on The Train – Paula Hawkins

Buku ini sedang¬†happening¬†banget di Goodreads karena diklaim sebagai¬†the next Gone Girl.¬†Tambah¬†happening¬†lagi waktu Stephen King ngetweet soal buku ini dan berpendapat “really great suspense novel. Kept me up most of the night. The alcoholic narrator is dead perfect.” Gimana saya ga makin ngiler buat baca ini coba. Bukunya baru ada edisi¬†hardcover¬†dengan harga yang agak ga santai. Bye bye money!

Sekilas emang mirip Gone Girl, tapi kalau udah selesai baca, jadi ga mirip lagi. Buku ini lebih mudah dibaca, pace lebih cepat, dan tokohnya ga sengeri Amy dari Gone Girl. Dari pertengahan buku sudah mulai keliatan siapa pelakunya, tapi tetap aja agak ga nyangka endingnya.

Sempat galau ngasih tiga setengah atau empat bintang, tapi akhirnya dibulatkan ke atas karena faktor easy read-done-in-one-sitting plus more likeable characters compared to Gone Girl.

Rating: 4 dari 5 bintang

Dan akhirnya setelah membaca empat buku bulan ini, status di Goodreads Challenge pun jadi “you’re 1 book ahead of schedule” ¬†YAY! Semoga tetap¬†on track¬†atau¬†ahead of schedule¬†di Februari!

uan, terutama di bagian Manusia Nasi dan Kakek Centong. Untung bacanya di kamar, jadi ga keliatan aneh karena ketawa kenceng-kenceng.

Sementara itu, untuk buku yang dibaca bulan ini, rata-rata agak serius gimana gitu, kecuali Seri Jennings.

Mr. Commitment – Mike Gayle

Buku pertama di 2015! Sudah pernah baca dua buku Mike Gayle lainnya dan punya pendapat yang imbang: satu bagus dan satu nyebelin. Bukunya dibeli di diskonan lapak Gramedia Citywalk dan langsung dibaca di hari yang sama akibat males mikir baca yang berat-berat. Ternyata bagus juga. Tokoh-tokohnya likeable dan masalah yang dihadapi lumayan bisa saya pahami. Meski sempat sedikit terseok membaca di tengah-tengah buku, tapi akhirnya bisa diselesaikan dengan riang gembira.

Rating: 4 dari 5 bintang

Untung Ada Jennings – Anthony Buckeridge

Dulu sekali pernah baca Jennings Series ini, tapi ga terlalu ingat ceritanya. Kayaknya karena dulu lebih suka Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan Trio Detektif. Akhirnya baca Jennings Series lagi setelah main ke tempat teman dan dia punya ini. Ini buku ke-8 sih, tapi ya sudahlah. Ceritanya ga jauh-jauh dari keisengan Jennings dan teman-temannya di sekolah asrama¬†Linbury Court School. Yang paling berkesan dari buku ini adalah makian-makiannya yang ajaib, dari mulai “pancing peot”, “keju kaku”, dan “keju bulukan.” Jadi penasaran baca edisi Bahasa Inggrisnya ūüėÜ

Rating: 3 dari 5 bintang

On Such a Full Sea – Chang Rae Lee

Kalau bukan karena diskonan Periplus, mungkin saya ga akan terlalu sadar keberadaan buku ini. Ini pertama kalinya saya bukunya Chang Rae Lee, yang tampaknya cukup populer dalam menulis tema imigrasi, asimilisasi, dan kesepian. Awal tertarik baca karena merasa judulnya puitis banget plus suka sama covernya yang sederhana.

Seperti judulnya, kalimat-kalimatnya juga puitis. Bukan puitis menye-menye penuh cinta, tapi cantik aja gitu.

‚ÄúA tale, like the universe, they tell us, expands ceaselessly each time you examine it, until there is finally no telling exactly where it begins, where it ends, or where it places you now.‚ÄĚ

Di awal-awal ceritanya cukup memikat, tapi di sepertiga terakhir jadi membosankan dan membingungkan (I whined about this book almost everyday, I bet my friend hated me because of it). Untungnya terbayar dengan ending yang ga disangka-sangka.

Rating: 3 dari 5 bintang

The Girl on The Train – Paula Hawkins

Buku ini sedang¬†happening¬†banget di Goodreads karena diklaim sebagai¬†the next Gone Girl.¬†Tambah¬†happening¬†lagi waktu Stephen King ngetweet soal buku ini dan berpendapat “really great suspense novel. Kept me up most of the night. The alcoholic narrator is dead perfect.” Gimana saya ga makin ngiler buat baca ini coba. Bukunya baru ada edisi¬†hardcover¬†dengan harga yang agak ga santai. Bye bye money!

Sekilas emang mirip Gone Girl, tapi kalau udah selesai baca, jadi ga mirip lagi. Buku ini lebih mudah dibaca, pace lebih cepat, dan tokohnya ga sengeri Amy dari Gone Girl. Dari pertengahan buku sudah mulai keliatan siapa pelakunya, tapi tetap aja agak ga nyangka endingnya.

Sempat galau ngasih tiga setengah atau empat bintang, tapi akhirnya dibulatkan ke atas karena faktor easy read-done-in-one-sitting plus more likeable characters compared to Gone Girl.

Rating: 4 dari 5 bintang

Dan akhirnya setelah membaca empat buku bulan ini, status di Goodreads Challenge pun jadi “you’re 1 book ahead of schedule” ¬†YAY! Semoga tetap¬†on track¬†atau¬†ahead of schedule¬†di Februari!