Wrap-Up Weekend #2

Ya ampun, semacam udah lama ga ngeblog. Pas ngecek tadi, rupanya ada postingan di blog personal yang malah terposting di sini, suram – -‘

Image

Di postingan Wrap-Up Weekend #1 lalu, yang berarti rekap bacaan Januari, saya berhasil membaca enam buku dengan total 1215 halaman. Untuk rekap bacaan Februari, mestinya saya menulis Wrap-Up Weekend #2, tapi karena malas agak sibuk, akhirnya saya ga menulis WUW #2. Lagian cupu juga sih, Februari lalu saya cuma baca lima buku; dua chiclit Sophie Kinsella dan tiga buku Roald Dahl yang super tipis. Total halaman yang dibaca cuma 1200. Itu juga karena tertolong bukunya Sophie Kinsella sih.

Sementara itu untuk rekap bacaan Maret di WUW #2 ada empat. Iya, cuma empat saja, tapi kayaknya halamannya lumayan banyak deh. Agak curang sih sebenenarnya, soalnya yang satu itu berupa novel grafis alias komik. Sebenarnya saya nggak memasukan komik ke daftar yang sudah saya baca, soalnya bikin target cepat tercapai. Lha wong sebulan bisa baca dua puluhan komik gitu :)) Tapi karena novel grafisnya bertema serius, jadi akhirnya masuk ke daftar yang sudah dibaca di GR.

A Drifting Life – Yoshihiro Tatsumi

Kalau dari database di Goodreads, total halaman novel grafis ini adalah 856. Berhubung saya membaca terjemahan bahasa Indonesianya yang dibagi menjadi empat volume, saya jadi nggak yakin berapa total halamannya. Tapi ya anggap saja 856 halaman itu. Karya Yoshihiro Tatsumi ini saya masukan ke daftar baca di GR karena dirinya pun enggan menyebut karyanya sebagai “manga” alias komik. Ia menyebut karyanya sebagai “gekiga” atau gambar drama. Tujuannya adalah untuk membedakan sasaran pembacanya karena menurutnya istilah manga terkesan untuk anak-anak.

Di karyanya ini, Tatsumi mencatatkan kisah hidupnya dari masa kecilnya sampai ia dewasa. Termasuk di dalamnya adalah proses kreatifnya sebagai seorang seniman gekiga. Nggak sekadar menceritakan soal hidupnya, Tatsumi juga menceritakan peristiwa-peristiwa historis maupun kultural yang terjadi di Jepang saat itu. Yah, meskipun sempat membosankan di beberapa bagian, tapi saya cukup menikmati membacanya. Terjemahan ke bahasa Indonesianya juga bagus. Ada beberapa bagian yang membuat saya tertawa, seperti penggunaan panggilan “mbak” dan “mas” di dalamnya. Oh iya, ada “alhamdulillah” juga waktu salah satu tokoh ditanya kabarnya :))

Rating: 3 dari 5 bintang.

Anansi Boys – Neil Gaiman

Sebenarnya dibaca karena iseng semata. Ada dua buku lain yang sedang saya baca dan nggak kunjung selesai karena ya gitulah. Butuh bacaan dan ingin membaca, akhirnya pilihan saya jatuh ke Anansi Boys. Sejak awal membaca saya penasaran sendiri apakah Anansi di Anansi Boys itu terkait dengan Anansi di American Gods. Kayaknya sih iya, tapi eh, nggak tahu juga deh. Fokus ceritanya di sini lebih ke arah Charles Nancy yang kemudian bertemu dengan saudaranya, Spider. Sejauh ini saya selalu suka cara bertutur Gaiman yang mengalir dan terkadang dibarengi dengan humor gelap. Saya pun suka pada Anansi Boys yang ceritanya mengalir dan penuh kejutan. Banyak pembicaraan yang menarik dan di beberapa bagian sanggup membuat saya tertawa-tawa sendiri membacanya.

Rating: 4 dari 5 bintang.

Summer, Fireworks, and My Corpse – Otsuichi

Buku ini terdiri dari tiga cerita; Summer, Fireworks, and My Corpse; Yuko; dan Black Fairy Tale. Cerita pertama yang jadi judul buku ini diambil dari sudut pandnag seorang anak perempuan yang meninggal (di awal cerita masih hidup sih) di musim panas. Jadi ya gitu deh, sudut pandangnya itu sudut pandang mayat. Soalnya dibilang hantu juga ya dia kayaknya adanya di sekitar mayatnya sendiri dan selalu bercerita dari sudut pandang posisi tubuhnya itu. Ceritanya lumayan ngeri juga sih, apalagi endingnya – -;

Cerita kedua yang berjudul Yuko agak horor, tapi nggak terlalu horor juga. Lebih ke arah mencekam karena deskripsi soal latar yang detail. Buat saya sih masih lebih ngeri cerita pertama ketimbang cerita kedua ini.

Cerita ketiga dan yang paling panjang adalah Black Fairy Tale. Bisa dibilang ini adalah ceritaception *halah* karena ada cerita di dalam cerita. Agak gory di beberapa bagian, tapi gory yang aneh dan asing. Ceritanya bikin penasaran sekaligus bikin takut. Saya sempat mimpi buruk sih karena cerita ini 😐

Rating: 3 dari 5 bintang.

Rumah Kopi Singa Tertawa – Yusi Avianto Pareanom

Buku kumpulan cerpen hadiah dari Michelle. Isinya delapan belas cerita pendek dengan genre dan setting yang beragam, dari yang sehari-hari di zaman sekarang sampai yang semacam kisah Mahabrata. Sejak membaca cerita pertama, saya langsung merasa cocok dengan gaya penceritaan si penulis yang mengalir. Rasanya semacam didongengi teman sendiri.

Nggak semua cerita cocok dengan selera saya sih. Bahkan ada juga yang bikin saya kesal ataupun bingung membacanya. Tapi, secara keseluruhan saya suka dengan cerpen-cerpen yang ada. Di antara delapan belas cerita, saya paling suka dengan Tiga Maria dan Satu Mariam. Sementara itu, cerita Rumah Kopi Singa Tertawa yang menjadi judul buku ini malah nggak meninggalkan kesan terlalu dalam buat saya. Mungkin judul itu dipilih karena unik atau gimana ya? Tapi emang judulnya catchy sih :))

Rating: 4 dari 5 bintang.

Jadi, total yang dibaca ada empat dengan total halaman 1762, lumayan lah meningkat sekitar 500 halaman dari bulan-bulan sebelumnya 😀 Target saya 14000 dan sampai Maret ini total yang sudah saya baca adalah 4177 halaman, jadi kurang 9823 halaman. Kalau kecepatan membaca saya seperti sekarang, kemungkinan besar target sudah akan terpenuhi November nanti, jadi tahun depan bisa nambah lagi target bacanya 😀

Advertisements

3 thoughts on “Wrap-Up Weekend #2

  1. Neil Gaiman itu jenius banget kayaknya kalau menulis cerita. Aku suka Anansi Boys. Tapi, dulu itu waktu pertama baca kayaknya aku kurang suka deh. Bukan soal ceritanya, alurnya, atau gaya penulisannya, karena ini semua aku selalu suka dari Neil, tapi karena Spider itu nyebelin. Udah, cuma karena itu aja. 😆

  2. @ Kimi: Iya, Kim, Spider emang nyebelin banget. Kasian bgt sama Fat Charlie. Tapi secara keseluruhan ceritanya bagus sih.

    @ Tama: hahaha, iya, Tam, kayaknya 5 tahun lagi udah bisa bikin taman bacaan atau perpus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s