Membaca Pram #1

Sudah dua bulan terakhir saya mengalami reader’s block yang membuat saya kehilangan pace  membaca saya dari kurang lebih empat buku selama sebulan hanya menjadi satu buku atau tidak sama sekali. Saya tetap berusaha untuk membaca, ke mana-mana saya tetap membawa buku dan menyimpan e-book di hape saya. Tapi, hasilnya tetap parah dan sangat lambat. Baru minggu lalu akhirnya reading pace saya kembali lagi karena sebuah buku yang telah membuat saya penasaran selama bertahun-tahun, yaitu Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer atau biasa dikenal sebagai Pram saja.

Penantian yang tidak sia-sia.
                                        Penantian yang tidak sia-sia.

Banyak orang begitu mengelu-elukan Tetralogi Buru karya Pram ini dan saya begitu penasaran dibuatnya. Saya mendapat impresi seakan setiap ada orang yang suka membaca dan belum membaca Pram jadi sia-sialah bacaannya. Awal Agustus lalu akhirnya saya berkesempatan memiliki Tetralogi Buru yang baru saja diterbitkan ulang oleh Lentera Dipantara. Saya pun langsung mencoba membacanya.

“Bumi Manusia” diawali dari cerita Minke tentang dirinya dan kegiatannya sebagai pribumi yang bersekolah di HBS Surabaya. Minke kemudian diajak Robert Surhoof, teman sekolahnya, untuk bertamu ke rumah keluarga Mellema di Wonokromo. Di sana, Minke berkenalan dengan keluarga Mellema;Robert Mellema, si sulung yang tampak tak pedulian, Annelies Mellema, si bungsu yang cantik dan kekanakan, dan Nyai Ontosoroh, ibu dari Robert dan Annelies, yang merupakan gundik dari Herman Mellema.

Minke begitu terpesona dengan kedua wanita di rumah Wonokromo tersebut. Minke tidak menyangka bahwa Nyai Ontosoroh, seorang gundik yang sering dianggap sebelah mata oleh banyak orang, ternyata lebih terpelajar ketimbang semua wanita -baik Pribumi, Indo Eropa, ataupun Eropa Totok- yang pernah ia temui.Dan Annelies, Annelies begitu cantik, rapuh, polos, dan kekanakan membuat Minke tidak bisa berjauhan dengannya. Minke, atas undangan Nyai Ontosoroh, akhirnya tinggal di rumah Wonokromo dan sejak itu pun hidupnya perlahan mulai berubah.

Pada awalnya saya khawatir saya akan bosan dan tidak cocok dengan gaya bahasanya. Rupanya saya salah besar. Saya begitu hanyut dalam deskripsi dan alur cerita Bumi Manusia.

Meskipun sebenarnya fokus utama cerita ada pada percintaan Minke-Annelies, saya suka sekali bagaimana keadaan dan pandangan orang-orang di zaman tersebut diceritakan di dalamnya, seperti soal segregasi antara Pribumi, Indo, dan Eropa Totok misalnya.

Dari segi penokohan, tokoh-tokoh di dalamnya berkembang dengan baik dan tidak hitam putih semata. Nyai Ontosoroh yang begitu cerdas dan kuat pun punya kelemahan. Minke seorang Jawa dengan pendidikan Eropa pun tetap tidak bisa murni terbebas dari akar kejawaannya. Annelies Mellema yang begitu manja, kekanakan, dan sulit sekali membuat saya berempati padanya, pada akhirnya pun menunjukkan kekuatannya sendiri.

Membaca “Bumi Manusia” membuat saya merefleksikan banyak hal di sekitar saya. Seperti Minke, saya juga berdarah Jawa tetapi tidak dididik dengan budaya Jawa yang kental. Seperti Nyai Ontosoroh, saya juga memiliki keinginan yang kuat untuk mandiri, tapi tetap ingin menjaga sisi-sisi lembut seperti Bunda Minke. Belum lagi persoalan lainnya soal memajukan diri agar setara dengan bangsa yang lebih maju, dalam cerita ini, Belanda. Benar-benar layak dibaca.

“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

– Nyai Ontosoroh pada Minke.

Judul : Bumi Manusia
Bahasa : Indonesia
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Terbit : Juni 2015
Tebal : 535 halaman
Harga : IDR 132,000.00

Advertisements

8 thoughts on “Membaca Pram #1

  1. @Takodok!: Sebelum punya Tetralogi Buru, aku punya dua buku Pram, satu (Arok Dedes) dibeli karena rekomendasi teman. Tapi belum juga jodoh membaca Pram sampai akhirnya impulsif beli Tetralogi Buru yang terbit ulang.

    @Tama: Sekarang lagi dibaca juga, tapi disambi bacaan yang lain. Habis patah hati di bab awal Anak Semua Bangsa, Tam.

  2. Perkenalan saya dengan karya Pramoedya juga diawali dengan Bumi Manusia, dan betul memang pada awalnya terdapat kekhawatiran tidak dapat menyelesaikan membacanya karena gaya menulisnya. Namun itu sama sekali tidak terbukti, deskripsinya begitu mengalir, pengembangan karakter Minke sangat istimewa, dan juga kepiawaian Pram dalam melukiskan suatu peristiwa patut diapresiasi.

    Sejak itulah saya tak pernah berhenti membaca karya Pram. Mungkin sudah hampir 80% karyanya telah saya baca..

    Selamat terhanyut dalam karya Pramoedya.. 🙂

    1. Saya masih dalam proses membaca “Anak Semua Bangsa” dan jujur saja, saya malah terdistraksi membaca yang lain-lain setelah patah hati dengan kondisi Annelies.

      Apakah ada rekomendasi karya Pram lain yang lebih ringan dan tidak terlalu tebal?

      1. Sebenarnya ada banyak karya Pram lain yg tidak se-“canonical” Tetralogi Buru namun tetap menarik dibaca, misalnya “Larasati”, “Gadis Pantai”, atau “Bukan Pasar Malam” yg lebih berupa novella. Buku lainnya yg tidak begitu tebal dan lebih bersifat non-fiksi juga ada, seperti “Perempuan Muda dalam Cengkeraman Militer”, “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” dan “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”.. Judul2 tersebut mungkin bisa dicoba untuk memahami karya Pram seutuhnya.. 🙂

  3. Aku lagi baca Anak Semua Bangsa dan so far, aku enjoy banget. Baru sampai 100 halaman sih jadi mungkin opini nanti berubah. Mudah-mudahan sih enggak.

    Padahal belum baca Bumi Manusia. Ya sudah lah. Ngerti-ngerti aja kok.

    Bener banget tuh: kayaknya kalau pembaca Indonesia belum baca Tetralogi Buru bakal ga dianggap.

    Kalau kamu nyari buku Pram yg ga setebel Tetralogi Buru, gw rekomendasikan Gadis Pantai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s