Sincerely Yours

Inge belum mandi sejak tadi pagi. Piama yang dia kenakan sudah kumal dan berumur sehari.

Sekar Wangi Tambanglaras, seorang penulis novel thriller berusia 24 tahun, lebih suka dipanggil Inge. Inge tinggal sendiri di sebuah rumah di daerah Sentul. Di Sabtu sore, telepon rumahnya yang lebih mirip sebagai barang pajangan berdering. Telepon di Sabtu sore itu yang kemudian membawa Inge berkenalan dengan Alan Anugrah, seorang kontraktor yang cukup dikenal di perumahannya.

Pertemuan pertama Inge dan Alan begitu mengesankan untuk Inge. Inge sempat mengira semua pria-pria zaman sekarang kebanyakan muram, dingin, sulit didekati, dan penuh teka-teki. Namun, Alan begitu lain, begitu sopan, ramah, dan domestik. Bagi Alan, pertemuan pertamanya dengan Inge membuatnya merasa begitu senang dan bersemangat. Alan sungguh tidak sabar untuk menemui Inge lagi.

—–
Dari blurb di bagian belakang cover, saya sekilas tahu bahwa saat Inge dan Alan bertemu, Alan sudah memiliki seorang kekasih. Cerita macam ini bukanlah jenis cerita yang saya suka, karena saya tahu saya akan sulit berempati kalau tokoh utamanya adalah pihak ketiga. Tapi, mengingat saya cukup menyukai cara Mbak Tia menulis di “Mahogany Hills” saya pun nekad untuk tetap membeli dan mencoba membaca buku ini.

Kita begitu berbeda dalam semua.
Kecuali dalam cinta.

Potongan puisi Sebuah Tanya milik Soe Hok Gie terpampang di bagian pembuka “Sincerely Yours” sehingga membuat saya bertanya-tanya perbedaan seperti apa yang ada antara Inge dan Alan atau mungkin antara Alan dan Ruby. Saya sempat berpikir apa jangan-jangan Alan dan Ruby memiliki perbedaan entah apa yang membuat Alan menyerah dan akhirnya tergoda untuk bersama Inge atau malah Inge dan Alan yang berbeda entah apa hingga membuat Alan tetap harus bersama Ruby. Tapi, rupanya saya salah, ceritanya ga seperti itu.

Ceritanya kurang lebih tentang Inge dan Alan yang sering bersama dan sepertinya saling menyukai satu sama lain, tapi karena banyak hal, hubungan mereka berjalan dengan lambat sekali. Inge memilik trauma masa lalu dan terlalu banyak berpikir. Alan yang masih memiliki kekasih super sibuk dan juga sama-sama terlalu banyak berpikir. Jadi, intinya, dua-duanya overthinking padahal ada romantic tension yang subtil tapi berkelanjutan (halah).

Secara cerita sebenarnya premisnya biasa aja, tapi saya suka karakterisasinya. Tidak ada karakter yang terlalu baik dan tidak ada juga yang jahat. Semua memainkan porsi masing-masing dengan pas. Memang ada beberapa nama yang hanya disebut sesekali saja, tapi saya rasa itu oke-oke saja, karena toh saya pasti akan sebal kalau disajikan deskripsi tentang Pak Ibrahim atau Diah dan Rina secara mendetail padahal tidak terlalu berkontribusi terhadap hubungan Inge dan Rina.

Secara karakter, saya suka Inge. Sedikit labil sih, tapi saya rasa masih dalam batas kewajaran mengingat Inge masih muda dan harus mengalami kejadian-kejadian tidak mengenakkan. Untuk Alan, meskipun saya juga sempat sedikit naksir di awal, tapi somehow semakin membaca soal Alan, saya malah jadi biasa saja dan tak terlalu terkesan. Bagi saya Alan sekadar pria baik (yang baiknya juga standard aja sih) dan pekerja keras, tapi terlalu mudah terbawa perasaan. Tapi sih titik ilfilnya waktu Alan memutuskan Ruby di jam makan siang di hari kerja, padahal dia tahu Ruby super sibuk. I was like, “dude, I thought you’re more thoughtful!” Sementara itu untuk Ruby dan Meta, saya suka mereka yang tidak terlalu cengeng ataupun drama mungkin bagusnya emang ga sama Alan! Saya juga cukup memahami perasaan Bu Linda dan saya tidak bisa untuk membencinya sama sekali.

Dari gaya menulis, duh, saya sih fans Mbak Tia kalau sudah urusan menulis deskripsi dan penggunaan diksi. Saya yang sedang agak demam sampai berakhir membuat pop mie karena terbawa perasaan saat membaca deskripsi Inge yang sedang makan mie. Juga sampai ngecek aplikasi GoFood untuk mencari sup iga, semua hanya karena deskripsi yang mengalir dan jelas -___- Bisa dikatakan, cara menulis Mbak Tia ini yang menjadi kekuatan utama dari “Sincerely Yours.” Coba misalnya “Sincerely Yours” ditulis dengan “lo-gue”, mixo-lingo, dan tebaran merk barang mewah di mana-mana, saya pasti sudah berhenti membaca sejak bab pertama. Saya juga suka sekali karena “Sincerely Yours” tidak kebanyakan dialog, jadi saya tidak seperti sedang membaca skrip sinetron. Terakhir, meskipun tidak terlalu banyak kalimat yang quotable macam si novel yang lagi populer itu , kalimat-kalimat yang ada cukup puitis tapi tidak lebay. Ibaratnya minuman, “Sincerely Yours” itu semacam teh apel, tidak terlalu manis, tapi menyegarkan dan meninggalkan after taste yang ringan.

Angin dingin berembus sekali lagi, menerbangkan dedaunan yang sudah cokelat dan mengering. Di langit, purnama bersinar terang sekali.

Judul : Sincerely Yours
Bahasa : Indonesia
Pengarang : Tia Widiana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2015
Tebal : 246 halaman
Harga : IDR 57,000.00

Advertisements

2 thoughts on “Sincerely Yours

  1. Saya pun suka cara bercerita mbak Tia. Ibaratnya santapan yang mudah dimetabolisme tubuh *halah*

    Sebagai pembaca yang malas, saya sering hilang konsentrasi saat harus membaca deskripsi berbelit-belit. Sekarang saja saya sudah lupa siapa nama tokoh di Mahogany Hills, tapi masih ingat penjabaran tata letak dapur rumah dalam buku tsb. Jaraaangg sekali terjadi šŸ˜†

    1. Paras dan Jagad kan kalau ga salah? šŸ˜†

      Di Mahogany Hills paling ingat kegiatan masak-memasaknya Paras sih. Bikin laper banget pas baca, hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s