2015 in Books

It’s been quite a while since the last time I posted something here. 2015 was a weird year for me on so many levels. For reading life, I set a goal to read 45 books in 2015. The goal was set under the precedent that I could read more than 40 books in 2013 and 2014. I was so confident that reading more than 40 books in a year was a piece of cake. But then lots of thing happened and I began to realise that reading 45 books in a year was impossible.

First quarter of 2015 went well. I could finish some books easily. Problem arose in the second quarter of 2015. For some reasons, I began to struggle on reading books, especially the thick ones. My attention span was short and I was easily distracted. Therefore, I read on and off and switched books a lot. Things didn’t go well until the third and last quarter of 2015. Instead of sticking to any books that I planned to read, I switched a lot, left many books half-read or only slightly read. I kept buying books because I thought my hundreds something unread books couldn’t cure my reading slumps so I kept looking at new ones, wishing the new piles could save me.It didn’t save me from my reading slumps. And the new piles will soon be forgotten in my cramped room. I came to the epiphany that reading slump is as real as quarter life crisis. It seems like a myth, but once you catch it, it’s very hard to escape.

 

1933555_10204720398244018_4601301489207651913_o

Put the failed-to-achieve-reading-goal aside, 2015 was somewhat a more satisfying year than in 2014. I read 37 books and my average rating for them was 3.6 stars. It means that most of the time I like the books I read, probably gave 3-4 stars in general. I find it a bit difficult to decide the top 5 books for 2015. Some books were hauntingly beautiful and made me left so overwhelmed with profound emotions than I had with some people 😆 But here’s my top 5:

  • A Little Life – Hanya Yanagihara
  • The Narrow Road to the Deep North – Richard Flannagan
  • Trigger Warning – Neil Gaiman
  • An Astronaut’s Guide to Life on Earth – Chris Hadfield
  • Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

1609995_10204720391483849_259663040931919951_n

I also read more short-stories in 2015. Thanks to my reading slumps and my short attention span that made me read 6 short-stories collections, 4 are from Indonesian writers and other 2 are from Neil Gaiman.

Compared to previous years, I also read more Indonesian books. Most of them are shot stories collections though. Two of books are debut novels (“Kahve” by Yuu Sasih and “Sebuah Wilayah yang Tidak Ada di Google Earth” by Pandu Hamzah), not really brilliant (plot holes here and there) but still quite enjoyable reads and most importantly, not chic lit. Generally, I am okay with chic lit, but there are too many local chic lit right now, some people really need to write something other than that.

Books that did not make to my top 5 list but made me very heart-broken: “Kitchen” by Banana Yoshimoto and “Me and Earl and the Dying Girl” by Jesse Andrews. I rarely cried. I didn’t even cry when I read “A Little Life” but I cried reading those books. Both books are not typical heart-breaking stories, but my INTJ heart was really touched with the stories *sigh*

Despite the low quantities of books that I read, I find them satisfying. Well, not all of them (“Supernova” by Dee and “Angin Bersyair” by Andrei Aksana were total rubbish IMO). But, mostly they’re beautifully written and good companions during 2015. For 2016, I decided to lay low on setting the reading goal. My goal is only to read 25 books but hopefully with more diversified genre and authors.

“There are things that wait for us, patiently, in the dark corridors of our lives. We think we have moved on, put them out of mind, left them to desiccate and shrivel and blow away; but we are wrong. They have been waiting there in the darkness, working out, practicing their most vicious blows, their sharp hard thoughtless punches into the gut, killing time until we came back that way.”
― Neil GaimanTrigger Warning: Short Fictions and Disturbances

 

Kitchen

image

Aku tidak bisa tidur di tempat lain selain dapur.

Mikage Sakurai kehilangan orang tuanya sejak kecil. Sejak itu, ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Saat SMP, kakeknya meninggal dan ia hanya tinggal berdua saja dengan neneknya. Selama tinggal berdua dengan neneknya, ia terkadang khawatir bahwa neneknya akan meninggal. Kemudian kekhawatiran itu pun menjadi nyata. Neneknya meninggal dan Mikage menjadi hilang arah. Ia tidak bisa tidur di kamarnya. Ia pun mencari-cari tempat agar bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya ia mendapati bahwa ia bisa tidur dengan lelap di dekat kulkas yang mendengung mengusir sepi di benaknya.

Mikage merasa bahwa apartemen yang pernah ia tinggali bersama neneknya tersebut terlalu luas dan membuatnya merasa sepi teramat dalam. Ia memutuskan untuk pindah ke apartemen yang lebih kecil. Suatu sore di musim semi yang mendung, Yuichi Tanabe, staf toko bunga langganan neneknya datang berkunjung dan meminta Mikage untuk bertamu ke rumahnya. Sore itu yang kemudian membawa Mikage masuk ke dalam kehidupan Yuichi Tanabe dan ayahnya yang bertransisi menjadi wanita bernama Eriko Tanabe.

—-

Sudah sejak lama saya ingin membaca “Kitchen” tapi entah mengapa saya seringkali lupa untuk membeli bukunya. Sampai akhirnya Sabtu lalu, saat saya sedang berkeluyuran sore di Blok M, saya tidak sengaja menemukan buku ini dan membelinya tanpa berpikir panjang. Minggu sore saya mulai membacanya dan tidak bisa berhenti hingga waktu bergerak ke Senin dini hari.

Saya bukan orang yang mudah menangis dan saya jarang sekali menangis karena film ataupun buku. Tapi, malam itu saya menangis karena “Kitchen”. Entah karena saya sedang terlalu sensitif (yang sebenarnya juga jarang terjadi) atau memang kisah Mikage ini menyedihkan, yang jelas saya menangis dan merasa pedih membaca buku ini.

Ini kali kedua saya membaca buku Banana Yoshimoto dan saya akui “Kitchen” jauh lebih bagus dari “The Lake.” Sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang orang pertama dari sisi Mikage dan itu membuat saya bisa berempati dengannya saat ia pada akhirnya kehilangan keluarga satu-satunya.Narasinya begitu indah dan mengalir. Saya pun suka bagaimana sosok Yuichi dan Eriko digambarkan.

Saya suka sekali bagaimana cerita dibuka dengan satu pernyataan Mikage tentang kesukaannya terhadap dapur. Perkembangan cerita dan hubungan antara Mikage dan Yuichi digambarkan dengan perlahan dan manis, tapi tidak terlalu mendayu. Untuk endingnya, saya sungguh puas dan meskipun terkesan subtil tapi bagi saya itu sangat pas sekali untuk mereka berdua.

Sebenarnya selain “Kitchen” di buku tersebut juga ada cerita lain berjudul “Moonlight Shadow” yang menceritakan Satsuki, perempuan usia 20 tahun, yang kehilangan kekasihnya, Hitoshi. Premisnya sederhana, tapi lagi-lagi, Banana Yoshimoto bisa menyajikannya dengan manis dan getir di saat bersamaan. Membaca keduanya memang sedikit membuat depresi, tapi sungguh penceritaannya begitu indah dan manis. Dan terakhir, saya akui, kualitas terjemahannya bagus sekali. Sekiranya tidak diterjemahkan dengan apik, mungkin pengalaman membacanya tidak akan semengesankan ini.

Untung dan sial adalah hal biasa, tapi mempercayakan diri kepada peruntungan semacam itu adalah sikap manja. Berpikir seperti itu pun kepedihan tidak akan berkurang. Setelah menyadari hal itu, meskipun ingin menolak aku telah menjadi orang dewasa yang bisa terus menjalani kehidupan ini dengan menerima kejadian buruk. Walaupun demikian hidup memang tidak mudah. – Kitchen, Banana Yoshimoto.

Judul : Kitchen
Bahasa : Indonesia
Pengarang : Banana Yoshimoto
Penerbit : KPG
Terbit : April 2009
Tebal : 204 halaman
Harga : IDR 20,000.00 (Bursa Buku Murah Blok M)

Membaca Pram #1

Sudah dua bulan terakhir saya mengalami reader’s block yang membuat saya kehilangan pace  membaca saya dari kurang lebih empat buku selama sebulan hanya menjadi satu buku atau tidak sama sekali. Saya tetap berusaha untuk membaca, ke mana-mana saya tetap membawa buku dan menyimpan e-book di hape saya. Tapi, hasilnya tetap parah dan sangat lambat. Baru minggu lalu akhirnya reading pace saya kembali lagi karena sebuah buku yang telah membuat saya penasaran selama bertahun-tahun, yaitu Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer atau biasa dikenal sebagai Pram saja.

Penantian yang tidak sia-sia.
                                        Penantian yang tidak sia-sia.

Banyak orang begitu mengelu-elukan Tetralogi Buru karya Pram ini dan saya begitu penasaran dibuatnya. Saya mendapat impresi seakan setiap ada orang yang suka membaca dan belum membaca Pram jadi sia-sialah bacaannya. Awal Agustus lalu akhirnya saya berkesempatan memiliki Tetralogi Buru yang baru saja diterbitkan ulang oleh Lentera Dipantara. Saya pun langsung mencoba membacanya.

“Bumi Manusia” diawali dari cerita Minke tentang dirinya dan kegiatannya sebagai pribumi yang bersekolah di HBS Surabaya. Minke kemudian diajak Robert Surhoof, teman sekolahnya, untuk bertamu ke rumah keluarga Mellema di Wonokromo. Di sana, Minke berkenalan dengan keluarga Mellema;Robert Mellema, si sulung yang tampak tak pedulian, Annelies Mellema, si bungsu yang cantik dan kekanakan, dan Nyai Ontosoroh, ibu dari Robert dan Annelies, yang merupakan gundik dari Herman Mellema.

Minke begitu terpesona dengan kedua wanita di rumah Wonokromo tersebut. Minke tidak menyangka bahwa Nyai Ontosoroh, seorang gundik yang sering dianggap sebelah mata oleh banyak orang, ternyata lebih terpelajar ketimbang semua wanita -baik Pribumi, Indo Eropa, ataupun Eropa Totok- yang pernah ia temui.Dan Annelies, Annelies begitu cantik, rapuh, polos, dan kekanakan membuat Minke tidak bisa berjauhan dengannya. Minke, atas undangan Nyai Ontosoroh, akhirnya tinggal di rumah Wonokromo dan sejak itu pun hidupnya perlahan mulai berubah.

Pada awalnya saya khawatir saya akan bosan dan tidak cocok dengan gaya bahasanya. Rupanya saya salah besar. Saya begitu hanyut dalam deskripsi dan alur cerita Bumi Manusia.

Meskipun sebenarnya fokus utama cerita ada pada percintaan Minke-Annelies, saya suka sekali bagaimana keadaan dan pandangan orang-orang di zaman tersebut diceritakan di dalamnya, seperti soal segregasi antara Pribumi, Indo, dan Eropa Totok misalnya.

Dari segi penokohan, tokoh-tokoh di dalamnya berkembang dengan baik dan tidak hitam putih semata. Nyai Ontosoroh yang begitu cerdas dan kuat pun punya kelemahan. Minke seorang Jawa dengan pendidikan Eropa pun tetap tidak bisa murni terbebas dari akar kejawaannya. Annelies Mellema yang begitu manja, kekanakan, dan sulit sekali membuat saya berempati padanya, pada akhirnya pun menunjukkan kekuatannya sendiri.

Membaca “Bumi Manusia” membuat saya merefleksikan banyak hal di sekitar saya. Seperti Minke, saya juga berdarah Jawa tetapi tidak dididik dengan budaya Jawa yang kental. Seperti Nyai Ontosoroh, saya juga memiliki keinginan yang kuat untuk mandiri, tapi tetap ingin menjaga sisi-sisi lembut seperti Bunda Minke. Belum lagi persoalan lainnya soal memajukan diri agar setara dengan bangsa yang lebih maju, dalam cerita ini, Belanda. Benar-benar layak dibaca.

“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

– Nyai Ontosoroh pada Minke.

Judul : Bumi Manusia
Bahasa : Indonesia
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Terbit : Juni 2015
Tebal : 535 halaman
Harga : IDR 132,000.00

Kafka

Pretty, rather than handsome, might describe him best. He’s wearing a button-down white cotton shirt and olive green chinos, with not a single wrinkle on either. When he looks down, his longish hair falls over his brow, and occasionally he notices this and fingers it back. His sleeves are rolled up to the elbows, revealing slender white writs. Delicately framed glasses nicely complements his features.


I was nowhere from aware that above passages are described prettily. But, now, I am fully aware and blushing just by reading them.

Both Flesh and Not

10477912_10201911289818063_9032702467308303199_nSedang mengalami reader’s block. Gaul banget deh pakai istilah reader’s block segala 😆 Ya intinya sedang tidak bersemangat membaca gitu. Dua buku yang kemarin kemarin sudah mulai dibaca di-drop semua. Akhirnya saya pun mencoba “bertualang” dengan mengambil buku secara acak dari tumpukan yang ada, kali-kali aja yang nyantol di hati dan bisa dibaca sampai selesai.

Pagi ini iseng baca Both Flesh and Not, buku kumpulan esai karangan David Foster Wallace. Karena ini kumpulan esai, ya gapapa sih kalau satu buku ga selesai dibaca, paling nggak kan satu esai sudah dibaca. Tadi pagi selesai baca satu esai pembuka di buku tersebut, judulnya Federer Both Flesh and Not. Wallace bercerita tentang Federer, pertandingan tenis, dan renungan soal olahraga (dan hidup).

Sejujurnya saya nggak terlalu menyimak soal tenis. Lalu, ini adalah tulisan pertama Wallace dan juga esai pertama mengenai olahraga yang saya baca. Jadi, bisa dibilang ini adalah sesuatu yang baru bagi saya. Menarik juga ternyata membaca esai tentang olahraga. Nggak nyangka sih kalau saya yang bukan penggemar olahraga bisa menikmati membacanya (ya mungkin karena nggak melulu soal olahraga juga sih).

For reasons that are not well understood, war’s codes are safer for most of us than love’s.