Kafka

Pretty, rather than handsome, might describe him best. He’s wearing a button-down white cotton shirt and olive green chinos, with not a single wrinkle on either. When he looks down, his longish hair falls over his brow, and occasionally he notices this and fingers it back. His sleeves are rolled up to the elbows, revealing slender white writs. Delicately framed glasses nicely complements his features.


I was nowhere from aware that above passages are described prettily. But, now, I am fully aware and blushing just by reading them.

Both Flesh and Not

10477912_10201911289818063_9032702467308303199_nSedang mengalami reader’s block. Gaul banget deh pakai istilah reader’s block segala 😆 Ya intinya sedang tidak bersemangat membaca gitu. Dua buku yang kemarin kemarin sudah mulai dibaca di-drop semua. Akhirnya saya pun mencoba “bertualang” dengan mengambil buku secara acak dari tumpukan yang ada, kali-kali aja yang nyantol di hati dan bisa dibaca sampai selesai.

Pagi ini iseng baca Both Flesh and Not, buku kumpulan esai karangan David Foster Wallace. Karena ini kumpulan esai, ya gapapa sih kalau satu buku ga selesai dibaca, paling nggak kan satu esai sudah dibaca. Tadi pagi selesai baca satu esai pembuka di buku tersebut, judulnya Federer Both Flesh and Not. Wallace bercerita tentang Federer, pertandingan tenis, dan renungan soal olahraga (dan hidup).

Sejujurnya saya nggak terlalu menyimak soal tenis. Lalu, ini adalah tulisan pertama Wallace dan juga esai pertama mengenai olahraga yang saya baca. Jadi, bisa dibilang ini adalah sesuatu yang baru bagi saya. Menarik juga ternyata membaca esai tentang olahraga. Nggak nyangka sih kalau saya yang bukan penggemar olahraga bisa menikmati membacanya (ya mungkin karena nggak melulu soal olahraga juga sih).

For reasons that are not well understood, war’s codes are safer for most of us than love’s.

Levels of Life

“You put together two things that have not been put together before. And the world is changed. People may not notice at the time, but that doesn’t matter. The world has been changed nonetheless.”

IMG_0277

Levels of Life, buku terbaru Julian Barnes, dibuka dengan kalimat yang saya kutip di atas. Saya bingung dalam mengkategorikan buku ini, karena buku ini campuran antara sejarah, fiksi, dan memoir.

Levels of Life adalah buku mungil dengan jumlah halaman hanya 117 saja. Ada tiga bagian dalam buku ini yaitu, The Sin of Height, On the Level, dan The Loss of Depth. Seperti kalimat pembukanya, buku ini bercerita tentang dua hal yang disatukan yang sebelumnya belum pernah disatukan. Balon dan fotografi. Fred Burnadby dan Sarah Bernhardt. Cinta dan nestapa.

“Every love story is a potential grief story.”

Dari tiga bagian dari Levels of Life, saya merasa The Loss of Depth adalah bagian inti dari buku ini, meskipun sebenarnya tiga bagian tersebut tidak terkait langsung. The Loss of Depth adalah memoir Julian Barnes sepeninggal istrinya, Pat Kavanagh. Di bagian ini bisa terlihat bagaimana Barnes mencintai istrinya dan bagaimana terpukul dirinya sepeninggal istrinya. Bahagia, manis, pedih, sedih, haru, dan putus asa tercampur semua dalam The Loss of Depth. Dan kesedihan kali ini bukan fiksi, bukan cerita yang ia tulis dari imajinasinya, tapi kesedihannya sendiri. Entah bagaimana perasaannya waktu menulis buku ini, saya yang sekadar baca saja perasaannya remuk redam 😦

“Love may not lead where we think or hope, but regardless of outcome it should be a call to seriousness and truth. If it is not that – if it is not moral in its effect – then love is no more than an exaggerated form of pleasure.”
― Julian Barnes, Levels of Life

Judul : Levels of Life
Bahasa : Inggris
Pengarang : Julian Barnes
Penerbit : Vintage
Terbit : 3 April 2014
Tebal : 117 halaman
Harga : IDR 142,000.00

Wishful Wednesday #4

Image

 

Belakangan ini saya rajin membaca Humans of New York via tumblr dan Facebook. Saya suka sekali dengan foto dan cerita subjek yang difoto. Nggak jarang saat membaca postingan Humans of New York mata saya jadi berair atau senyum saya mengembang super lebar. So human, so pretty, and somehow it makes me believe that even among the hustles and chaos of a big city like New York, people try their best to live, like life’s worth all the effort *usap mata*

Beberapa hari lalu saat saya ke toko buku favorit saya, saya lihat buku Humans of New York. Wow, insta-love! Pingin banget beli tapi saya sudah menghabiskan jatah belanja buku saya untuk buku-buku lainnya yang lebih penting, jadi belum bisa beli buku ini bulan ini. Semoga bulan depan bisa terbeli.

—-

wishful-wednesday

Yang ingin ikut Wishful Wednesday, silakan mampir ke blog Mbak Astrid dan ikuti cara mainnya.

The Marriage Plot

Saya membaca The Marriage Plot nyaris tiga minggu lalu, tapi masih ada kesan kuat yang tertinggal pada diri saya. Kalau kata anak gaul tumblr sih ini namanya book hangover. The Marriage Plot adalah buku yang saya beli dan baca tanpa ada ekspektasi apa-apa tapi berakhir sangat kenapa-kenapa setelah membacanya.

Dibeli di diskon Periplus di FX dengan harga IDR 35,000.- saja, buku ini pun masuk ke tumpukan bacaan saya. Sehari sebelum saya pergi berkunjung ke negeri matahari terbit, saya bingung mau membawa buku apa sebagai teman perjalanan. Akhirnya The Marriage Plot saya pilih untuk menemani saya karena cukup tebal dan sepertinya temanya menarik.

photo (11)

Cerita The Marriage Plot berpusat pada tiga orang usia 20-an yang berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar hidup mereka, baik dalam percintaan, pekerjaan, dan spiritual. Tokoh utamanya, Madeleine Hanna, adalah seorang wanita awal 20-an yang mengambil jurusan Sastra Inggris. Madeleine menyukai penulis era Victoria seperti Austen dan Bronte. Di awal-awal novel, banyak bagian yang menceritakan perkuliahan Madeleine dan pandangan-pandangannnya mengenai kehidupan dan percintaan melalui buku-buku yang ia baca. Banyak referensi yang diambil dari buku-buku Austen, Bronte dan juga pembahasan semiotika dari Derrida dan Barthes. Hal ini bisa jadi menyenangkan untuk yang tertarik dengan tema tersebut, tapi bisa jadi  major turn off  di awal buku kalau pembacanya kurang tertarik dengan tema tersebut.

Dua tokoh lain yang ‘mewarnai’ novel ini adalah Leonard Bankhead dan Mitchell Grammaticus. Leonard adalah pusat perhatian banyak orang dengan kecerdasan dan penampilannya yang menarik. Leonard mengambil jurusan Biologi dan Filosofi, memakai bandana di kepalanya, dan punya kebiasaan mengunyah tembakau. Sementara itu, Mitchell berpenampilan ala akademisi, mengambil kuliah Teologi, dan punya ketertarikan besar terhadap studi perbandingan agama.

Sekilas bisa ditebak bahwa ada cinta segitiga antara Madeleine, Leonard, dan Mitchell. Mitchell menyukai Madeleine, sementara itu Madeleine dan Leonard saling mencintai. Tapi, ceritanya tidak sesederhana itu. Madeleine, Leonard, dan Mitchell masing-masing merasa insecure terhadap diri mereka dan masa depan. Apakah benar Madeleine mencintai Leonard? Apakah benar Leonard tidak bisa hidup tanpa Madeleine? Dan apakah Mitchell yakin bahwa pada akhirnya Madeleine ditakdirkan akan bersamanya? Banyak pertanyaan yang muncul dalam diri mereka dan mereka berusaha mencari jawabannya dengan cara masing-masing.

IMG_0160

Sejujurnya, saya tidak menyangka kalau The Marriage Plot mampu ‘menggerakkan’ diri saya sampai segitunya. Saya bisa bilang kalau tokoh-tokohnya tidak loveable. Percintaan mereka tidak seunyu anak-anak muda di The Faults in Our Stars dan mereka tidak semanis itu. Tapi, saya terharu dan depresi sendiri melihat proses Madeleine, Leonard, dan Mitchell dalam mencari jawaban atas pertanyaan mereka. Saya yang jarang menangis malah nyaris menangis (ditahan-tahan karena malu diliat orang) saat membacanya di bandara. Mungkin karena saya sedang sensitif atau karena efek perjalanan saya saat itu, tapi sungguh The Marriage Plot membantu saya berpikir tentang banyak hal, termasuk membantu mendekontsruksi cara berpikir saya tentang percintaan *halah* Lima dari lima bintang untuk buku ini. Definitely worth the pain and effort to read!

“There are some books that reached through the noise of life to grab you by the collar and speak only of the truest things.” ― Jeffrey EugenidesThe Marriage Plot

Judul : The Marriage Plot
Bahasa : Inggris
Pengarang : Jeffrey Eugenides
Penerbit : Farrar, Straus and Giroux
Terbit : 11 Oktober 2011
Tebal : 406 halaman
Harga : IDR 35,000.00 (Diskon Periplus)

Tempat Main: And Or Bookstore

Astaga, ternyata sudah sebulan lebih saya ga update blog. Sejak ga ada Buying Monday, jadi malas update blog, hahahahaha *alasan*

Update kali ini bukan buat pamer belanjaan ataupun wrap up review bacaan bulan lalu (lupa belum bikin yg April sih). Tapi mau pamer tempat belanja buku di Jogja, yaitu And Or Bookstore. Saya sudah dua kali belanja online di And Or Bookstore dan selalu suka pelayanannya. Nggak, pelayanannya nggak ramah yang gimana banget sih, hahahaha. Mas yang jual, Mas Ajar, pintar merayu pakai diskon dan jejeran buku yang covernya ciamik. Sialnya saya lemah sama dua hal itu, jadi deh terjebak beli :))

Dua minggu lalu saya ke Jogja bareng teman-teman saya dan akhirnya sempat mampir ke lapaknya And Or. Pake janjian dulu gitu sama Mas Ajar biar saya dapet diskon lebih banyak lagi kalau belanja :p Tadinya janjian jam 12, lalu molor jadi jam 1 karena teman-teman saya habis makan eh minta makan lagi – -‘

Sampai di And Or sekitar jam 1 siang. Tempatnya mudah dicari, ada jalan dekat Mirota Gejayan. Kalau yang biasa ke Jogja sih gampang nyarinya, gatau deh kalau yang ga biasa. Tokonya ada di lantai dua. Lantai satunya lapak roti yang dijual sama bule-bule gitu.

Lapaknya And Or ini ga terlalu besar, tapi unyu banget. Mirip perpustakaan pribadi gitu. Waktu saya datang, ada beberapa pria di sana, saya gatau yang jual yang mana, yang beli yang mana, mereka sibuk baca sendiri-sendiri.

Sudut And or dilihat dari pojokan rak klasik.

Ada empat bagian di And Or. Bagian pertama ini yang ada rak N OR unyu ini, isinya rata-rata paperback general fiction. Genre-nya dicampur gitu sih, jadi kadang habis Jodi Picoult nemu Le Carre atau Baldacci. Harus jeli milihnya. Kemarin nemu Oil! yang termasuk langka juga, tapi karena saya males baca yang berat-berat dan teman saya, Grasio, males baca karena udah nonton filmnya (There Will Be Blood), akhirnya ga jadi beli deh.

10312547_10201537268347760_911211719963847668_n

Bagian kedua, di dekat rak N itu ada rak setinggi dinding, ada tangganya juga supaya mudah ambil buku di bagian-bagian atas. Kebanyakan isinya buku non-fiksi. Ada beberapa buku fiksi dan komik juga di yang bagian pojokannya, tapi rata-rata sih non fiksi dengan berbagai tema. Di bagian ini ada karpet dan bantal-bantal fluffy, jadi enak buat baca.

1690683_10201537269947800_6487844173314314199_n

Bagian ketiga di And Or itu isinya sofa-sofa buat baca gitu. Waktu itu sih dipake buat ngobrol sama Mas Ajar dan temannya 😛 Bagian ketiga isinya meja, kursi, dan rak bacaan klasik.

photo (11)

Setelah lumayan lama liat-liat dan gamang sendiri, akhirnya tibalah waktunya berpisah (soalnya ada tempat yang harus didatangi lagi, reviewnya ada di blog yang makanan). Saya, Grasio, Naldi, dan Monik akhirnya beli beberapa buku (lupa berapa, kayaknya delapan deh). Totalnya hanya IDR 320 ribu saja karena dapat diskon member And Or. Selain dikasih diskon 10%, saya juga dikasih tas jinjing gitu. Sayangnya sih lupa saya foto 😀 Kata Mas Ajar, jauh-jauh dari Jakarta kok belinya cuma segitu doang. Kayaknya dia lupa deh, seminggu sebelumnya saya habis belanja online dan bahkan saya belum ngecek paketnya sudah sampai atau belum karena saya keburu ke Jogja.

Hari berikutnya setelah saya sampai di Jakarta, ternyata paket saya sudah sampai dan di dalamnya ada member card And Or. Kartunya unyu deh, warnanya biru dan ada gambar buku-bukunya, sayangnya lupa saya foto juga, hahaha.

Jadi, kalau sempat main ke Jogja atau tinggal di Jogja dan nyari buku-buku berbahasa Inggris dengan harga rasional, coba deh main ke And Or. Bisa numpang baca juga di situ, hehehe.

Yang di luar Jogja macam saya bisa beli online. Meskipun bukunya adalah buku bekas, tapi kualitasnya masih baik. Lumayan juga sih, daripada bokek beli buku baru harganya 200ribuan, mendingan beli buku bekas, 200ribu bisa dapat empat atau lima xD Kalau udah member bisa dapat diskon 10% dan tiap ada buku baru akan dikasitau daftarnya via email. Lumayan, jadi bisa take on dibs sebelum daftarnya muncul di blog :p

Kapan-kapan main lagi ah~

—–
And Or Bookstore
Lokasi: JL. Bougenvile 1c Karangasem CT X, Gejayan
Web: http://andorbookstore.blogspot.com/
Twitter: https://twitter.com/andorbookstore

Wrap-Up Weekend #2

Ya ampun, semacam udah lama ga ngeblog. Pas ngecek tadi, rupanya ada postingan di blog personal yang malah terposting di sini, suram – -‘

Image

Di postingan Wrap-Up Weekend #1 lalu, yang berarti rekap bacaan Januari, saya berhasil membaca enam buku dengan total 1215 halaman. Untuk rekap bacaan Februari, mestinya saya menulis Wrap-Up Weekend #2, tapi karena malas agak sibuk, akhirnya saya ga menulis WUW #2. Lagian cupu juga sih, Februari lalu saya cuma baca lima buku; dua chiclit Sophie Kinsella dan tiga buku Roald Dahl yang super tipis. Total halaman yang dibaca cuma 1200. Itu juga karena tertolong bukunya Sophie Kinsella sih.

Sementara itu untuk rekap bacaan Maret di WUW #2 ada empat. Iya, cuma empat saja, tapi kayaknya halamannya lumayan banyak deh. Agak curang sih sebenenarnya, soalnya yang satu itu berupa novel grafis alias komik. Sebenarnya saya nggak memasukan komik ke daftar yang sudah saya baca, soalnya bikin target cepat tercapai. Lha wong sebulan bisa baca dua puluhan komik gitu :)) Tapi karena novel grafisnya bertema serius, jadi akhirnya masuk ke daftar yang sudah dibaca di GR.

A Drifting Life – Yoshihiro Tatsumi

Kalau dari database di Goodreads, total halaman novel grafis ini adalah 856. Berhubung saya membaca terjemahan bahasa Indonesianya yang dibagi menjadi empat volume, saya jadi nggak yakin berapa total halamannya. Tapi ya anggap saja 856 halaman itu. Karya Yoshihiro Tatsumi ini saya masukan ke daftar baca di GR karena dirinya pun enggan menyebut karyanya sebagai “manga” alias komik. Ia menyebut karyanya sebagai “gekiga” atau gambar drama. Tujuannya adalah untuk membedakan sasaran pembacanya karena menurutnya istilah manga terkesan untuk anak-anak.

Di karyanya ini, Tatsumi mencatatkan kisah hidupnya dari masa kecilnya sampai ia dewasa. Termasuk di dalamnya adalah proses kreatifnya sebagai seorang seniman gekiga. Nggak sekadar menceritakan soal hidupnya, Tatsumi juga menceritakan peristiwa-peristiwa historis maupun kultural yang terjadi di Jepang saat itu. Yah, meskipun sempat membosankan di beberapa bagian, tapi saya cukup menikmati membacanya. Terjemahan ke bahasa Indonesianya juga bagus. Ada beberapa bagian yang membuat saya tertawa, seperti penggunaan panggilan “mbak” dan “mas” di dalamnya. Oh iya, ada “alhamdulillah” juga waktu salah satu tokoh ditanya kabarnya :))

Rating: 3 dari 5 bintang.

Anansi Boys – Neil Gaiman

Sebenarnya dibaca karena iseng semata. Ada dua buku lain yang sedang saya baca dan nggak kunjung selesai karena ya gitulah. Butuh bacaan dan ingin membaca, akhirnya pilihan saya jatuh ke Anansi Boys. Sejak awal membaca saya penasaran sendiri apakah Anansi di Anansi Boys itu terkait dengan Anansi di American Gods. Kayaknya sih iya, tapi eh, nggak tahu juga deh. Fokus ceritanya di sini lebih ke arah Charles Nancy yang kemudian bertemu dengan saudaranya, Spider. Sejauh ini saya selalu suka cara bertutur Gaiman yang mengalir dan terkadang dibarengi dengan humor gelap. Saya pun suka pada Anansi Boys yang ceritanya mengalir dan penuh kejutan. Banyak pembicaraan yang menarik dan di beberapa bagian sanggup membuat saya tertawa-tawa sendiri membacanya.

Rating: 4 dari 5 bintang.

Summer, Fireworks, and My Corpse – Otsuichi

Buku ini terdiri dari tiga cerita; Summer, Fireworks, and My Corpse; Yuko; dan Black Fairy Tale. Cerita pertama yang jadi judul buku ini diambil dari sudut pandnag seorang anak perempuan yang meninggal (di awal cerita masih hidup sih) di musim panas. Jadi ya gitu deh, sudut pandangnya itu sudut pandang mayat. Soalnya dibilang hantu juga ya dia kayaknya adanya di sekitar mayatnya sendiri dan selalu bercerita dari sudut pandang posisi tubuhnya itu. Ceritanya lumayan ngeri juga sih, apalagi endingnya – -;

Cerita kedua yang berjudul Yuko agak horor, tapi nggak terlalu horor juga. Lebih ke arah mencekam karena deskripsi soal latar yang detail. Buat saya sih masih lebih ngeri cerita pertama ketimbang cerita kedua ini.

Cerita ketiga dan yang paling panjang adalah Black Fairy Tale. Bisa dibilang ini adalah ceritaception *halah* karena ada cerita di dalam cerita. Agak gory di beberapa bagian, tapi gory yang aneh dan asing. Ceritanya bikin penasaran sekaligus bikin takut. Saya sempat mimpi buruk sih karena cerita ini 😐

Rating: 3 dari 5 bintang.

Rumah Kopi Singa Tertawa – Yusi Avianto Pareanom

Buku kumpulan cerpen hadiah dari Michelle. Isinya delapan belas cerita pendek dengan genre dan setting yang beragam, dari yang sehari-hari di zaman sekarang sampai yang semacam kisah Mahabrata. Sejak membaca cerita pertama, saya langsung merasa cocok dengan gaya penceritaan si penulis yang mengalir. Rasanya semacam didongengi teman sendiri.

Nggak semua cerita cocok dengan selera saya sih. Bahkan ada juga yang bikin saya kesal ataupun bingung membacanya. Tapi, secara keseluruhan saya suka dengan cerpen-cerpen yang ada. Di antara delapan belas cerita, saya paling suka dengan Tiga Maria dan Satu Mariam. Sementara itu, cerita Rumah Kopi Singa Tertawa yang menjadi judul buku ini malah nggak meninggalkan kesan terlalu dalam buat saya. Mungkin judul itu dipilih karena unik atau gimana ya? Tapi emang judulnya catchy sih :))

Rating: 4 dari 5 bintang.

Jadi, total yang dibaca ada empat dengan total halaman 1762, lumayan lah meningkat sekitar 500 halaman dari bulan-bulan sebelumnya 😀 Target saya 14000 dan sampai Maret ini total yang sudah saya baca adalah 4177 halaman, jadi kurang 9823 halaman. Kalau kecepatan membaca saya seperti sekarang, kemungkinan besar target sudah akan terpenuhi November nanti, jadi tahun depan bisa nambah lagi target bacanya 😀

Wishful Wednesday #3

Horee akhirnya ikutan WW lagi! WW pertama di Februari, ihiy. Niatnya sih saya ikutan WW ini sebulan sekali aja, soalnya takutnya saya malah makin mupeng dengan buku-buku yang ada di WW ini~ xD
wishful-wednesday

Kali ini saya sedang ngidam-ngidamnya dengan sebuah buku non-fiksi (iye, non-fiksi lagi) mengenai kehidupan para nomad di zaman sekarang. Hidup nomaden merupakan tradisi yang sudah berjalan lama sekali, kira-kira sejak sepuluh ribu tahun lalu, bagi banyak suku (kayaknya sih sekitaran segitu, diingat-ingat lagi pelajaran sejarahnya tentang masa berburu-meramu). Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan nomaden mulai ditinggalkan. Manusia banyak yang memilih menetap dan mengembangkan peradaban. Meskipun demikian, tidak berarti kehidupan nomaden sirna begitu saja. Masih ada suku-suku yang tetap memilih untuk nomaden hingga saat ini.

Jelle Brandt Corstius dan Jeroen Toirkens, dua fotografer asal Belanda, mengabadikan kehidupan para nomad di belahan bumi utara selama satu dekade. Melalui 150 foto dalam buku ‘Nomad’ mereka mencoba menangkap sebagian kehidupan orang-orang yang memilih mengembara di bumi yang kian ramai ini.

nomad

Mungkin karena butuh waktu lama untuk mengabadikan kehidupan nomaden dalam buku ini, buku ini harganya jadi mahal sekali. Dari informasi di Amazon, buku ini hanya setebal 208 halaman saja, tapi harganya USD91.50. Saya pingin nangis liat harganya, itu kan bisa dapet tiga bukunya Ahmed Rashid atau Joseph Nye! :))

Jadi, ya begitulah. Barangkali ada yang berbaik hati mau membelikan saya buku ini, jika wanita akan saya anggap sebagai saudara, jika pria akan saya anggap sebagai saudara juga 😆

—-
Yang ingin ikut Wishful Wednesday, silakan mampir ke blog Mbak Astrid dan ikuti cara mainnya.

Buying Monday #1

Sebenarnya sih ini Buying Monday saya yang ketiga, tapi karena di blog dan di tahun ini saya baru pertama ikutan Buying Monday, ya udah lah ya anggap saja ini Buying Monday #1 saya.

bm

Selama tiga bulan terakhir di 2013, pembelian buku saya menggila dan sungguh di luar budget yang telah ditetapkan (all this time? always). Padahal tahu sendiri kecepatan membaca ga secepat kecepatan membeli (saya pernah menghitung bahwa saya sedikitnya membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan semua buku saya yang belum saya baca). Di 2014, salah satu resolusi saya adalah mengurangi pembelian buku. Budget bolehlah dilanggar sedikit, asalkan kecepatan membacanya bisa menyamai kecepatan membelinya 😆

Di awal tahun ini, buku yang saya beli ga terlalu banyak dan di bawah budget yang telah ditetapkan, yaaaaaaaaaay! *high-five ke diri sendiri* *tepuk pundak sendiri*

BM January

Buku yang dibeli di Januari kemarin agak unik, karena ga semuanya fiksi dan beberapa di antaranya adalah buku yang sudah saya idam-idamkan sejak lama. Hiks, terharu banget, akhirnya kesampean juga punya buku-buku itu T__T

Berikut urutan Buying Monday di Januari sesuai tanggal pembelian:

 

5 cm per Second Volume 1 & 2 – Makoto Shinkai & Yukiko Seike
Sudah pernah nonton animenya sih, tapi pingin aja punya komiknya. Ternyata ceritanya lebih komprehensif dibanding animenya.

 

The Wonderful Story of Henry Sugar & Six More – Roald Dahl & The Great Automatic Grammatizator And Other Stories – Roald Dahl
Niatnya beliin buat adik saya yang umur 13 tahun. Akhirnya malah buat saya sendiri 😛

 

Sweet Dress Book: 23 Stylish Outfits from Six Simple Patterns [With Patterns] – Yoshiko Tsukiori
Ini buku tutorial menjahit beserta polanya untuk ibu saya.

 

Unrequited Love in Fukuoka – Mikan Natsume
Dibeli hanya karena ada kata ‘Fukuoka’. Saya kangen Fukuoka 😦

 

Taliban: Militant Islam, Oil and Fundamentalism in Central Asia – Ahmed Rashid
Akhirnyaaa kesampean juga punya buku ini! Buku ini akan jadi ‘prolog’ untuk buku-buku Ahmed Rashid yang lain.

 

Fukusuke Volume 1 & 2 – Shizuka Ito The Furo Siblings – Yuki Shiwasu
Mati gaya karena volume terbaru Beelzebub belum ada lagi, akhirnya beli ini.

 

A Brief History of Time – Stephen Hawking
Niatnya cuma ambil uang di ATM waktu lagi makan malam, tapi malah mampir dulu ke toko buku dan beli ini.

 

Can You Keep a Secret – Sophie Kinsella, Beauty Case – Icha Rahmanti, Tea for Two – Clara Ng
Kesambet entah apa deh saya sampai beli tiga chiclit waktu jalan-jalan sore minggu lalu.

 

Anak Bajang Menggiring Angin – Sindhunata
Sebenarnya buku ini sudah dipesan sejak Desember. Tapi berhubung saya baru bayar dan mengambil buku ini tanggal 31 Januari kemarin, jadi saya hitung sebagai buku yang dibeli di Januari.

 

Total pembelian ada lima belas yang terdiri dari enam komik, dua kumpulan cerpen, satu tutorial, dua non-fiksi, dan empat fiksi. Berbeda dengan Buying Monday saya yang sebelumnya (yang seringnya cuma beli tapi bacanya kapan-kapan), kali ini saya sudah membaca sepuluh dari lima belas buku tersebut (sebelas sih kalau membaca tutorial itu termasuk). Well, nggak buruk juga untuk memulai 2014 😀

 

—-
Bagi yang berminat untuk menjadi bagian dari catwalk for readers ini, silahkan mampir ke blog Aulia sang penggagas Buying Monday untuk memahami aturannya.  Selamat menimbun!

Wrap-up Weekend #1

Tahun ini target membaca saya adalah 40 buku. Errr.. tepatnya sih target saya adalah membaca 14000 halaman buku. Soalnya kalau saya sekadar menargetkan baca 40 buku, ya saya baca buku karangan Maurice Sendak yang tipis-tipis aja lah biar target tercapai 😀

photo (7)

Di permulaaan 2014 ini saya bisa mengatur waktu dengan baik. Ada lah beberapa hal yang membuat saya bisa bilang gitu termasuk dalam soal membaca. Selama 31 hari di Januari saya berhasil membaca enam buku dengan total 1215 halaman, yang berarti rata-rata bukunya hanya setebal 202 halaman (tipis banget ya). Dari enam tersebut, lima adalah kumpulan cerita pendek dan satu novel. Detailnya sebagai berikut:

Seribu Kunang-kunang di Manhattan – Umar Kayam

Ini adalah buku pertama yang saya baca di 2014. Yah ini juga buku pertama Umar Kayam yang saya baca sih. Buku ini saya beli karena terpengaruh teman saya yang super ngidam pingin punya buku ini. Isinya terdiri dari sepuluh cerita pendek dengan rentang waktu dan tempat yang berbeda-beda (awalnya saya kira semuanya berlatar tempat di luar negeri). Nggak semua ceritanya saya suka, tapi beberapa di antaranya sangat memikat seperti Bawuk dan Sri Sumarah.

Rating: 4 dari 5 bintang.

The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More – Roald Dahl

Saya adalah penggemar berat Roald Dahl sejak lama. Tapi, jujur saja saya nggak pernah baca kumpulan cerpennya. Ini adalah pertama kalinya saya membaca kumpulan cerpen dari Roald Dahl dan saya terkaget-kaget saat membacanya! Ada tujuh cerita di buku ini dan tiga di antaranya adalah non-fiksi, termasuk tulisan pertama Roald Dahl tentang pengalamannya sebagai pilot pesawat tempur semasa Perang Dunia II. Buku yang menarik dan penuh kejutan (saya nggak menyangka Roald Dahl bisa menulis dengan gaya Edgar Allan Poe).

Rating: 4 dari 5 bintang.

The Great Automatic Grammatizator And Other Stories – Roald Dahl

Sama dengan buku sebelumnya, ini juga kumpulan cerita pendek. Ada tiga belas cerita di buku ini dengan genre macam-macam dari humor, misteri, sampai thriller. Sulit sekali untuk menentukan cerita mana yang jadi favorit saya karena setiap cerita punya keunikan sendiri. Tapi, ada satu cerita berjudul ‘Katina’ yang membuat saya agak suram karena larut merasakan pedihnya peperangan. Bisa saya katakan bahwa buku ini adalah salah satu karya Roald Dahl favorit saya.

Rating: 5 dari 5 bintang.

Negeri Para Peri – Avianti Armand

Buku ini dibagikan secara gratis dalam bentuk .pdf oleh penulisnya. Terdiri dari enam belas cerita pendek yang menurut saya sih agak suram. Layout dan desain bukunya cukup menarik, agak suram-suram gimana gitu disesuaikan dengan tema suram ceritanya. Nggak semua cerita yang ada bisa saya nikmati. Ada beberapa yang membuat dahi saya berkerut, mata saya berputar, dan bahu yang bergidik ngeri campur jijik. Tapi, ada beberapa cerita yang membuat saya larut di dalamnya, cerita dengan tipikal yang saya sukai; bittersweet.

Rating: 3 dari 5 bintang.

Rumah Bambu: Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir – Y B Mangunwijaya

Lagi-lagi saya membaca kumpulan cerpen. Ini adalah kumpulan cerpen pertama dan terakhir Romo Mangun. Yah, ini juga pertama kalinya saya membaca karya Romo Mangun, tapi saya pikir ini tidak akan menjadi karya terakhir beliau yang saya baca. Terdiri dari dua puluh cerita yang ditulis dari tahun 60an sampai 90an. Saya suka gaya penceritaan Romo Mangun yang deskriptif dan mengalir. Dari dua puluh cerita yang ada, saya suka sekali dengan Rheinsten, Mbak Pung, dan Thithut.

Rating: 4 dari 5 bintang.

Beauty Case – Icha Rahmanti

Selain buku-bukunya Ilana Tan, Jia Effendi, dan Ika Natassa, saya juga benci sekali pada buku ini 😐 Yah, saya memang nggak terlalu gemar baca chiclit. Tapi, nggak berarti saya benci semuanya. Ada beberapa yang saya suka, yang jelas bukan buku ini. Tokoh utamanya, Nadja, super labil, kekanakan, dan menyebalkan. Banyak sekali tingkah Najda yang membuat saya terheran-heran sambil berkata dalam hati, “Yang bener aja woy! Pinter dikit kenapa sih!” Oh Tuhan, lindungilah saya dari bacaan-bacaan nggak mutu seperti ini.

Rating: 1 dari 5 bintang.