Reading Life: April

Dari segi jumlah, saya mengalami kemajuan dalam kehidupan membaca saya. April lalu saya berhasil menyelesaikan membaca empat buku. Meski demikian, kalau dari segi halaman, yaaah nggak seberapa. Buku yang saya baca adalah dua novel dan dua kumpulan cerpen yang tebalnya kurang dari 200 halaman.

My Year of Meats – Ruth Ozeki

Dibaca kurang lebih dalam waktu tiga mingguan. Buku ini bercerita tentang Jane Takagi-Little dan tahun yang dihabiskannya dengan daging (thus the title). Jane membuat acara televisi untuk audiens Jepang tentang istri-istri Amerika dan resep daging favorit mereka. Acara tersebut disponsori oleh grup pelobi daging sapi dengan harapan penjualan daging sapi dari Amerika Serikat akan meningkat di Jepang.

Ceritanya ga melulu soal Jane dan pekerjaannya, tapi juga soal Jane dan kehidupannya. Selain Jane, ada juga Akiko, istri dari boss Jane dan beberapa wanita lainnya. Yang paling menarik dari buku ini adalah karena Ozeki juga mengupas bagaimana industri daging dijalankan di Amerika Serikat. Terkadang saya sedikit merasa bahwa ini upaya Ozeki untuk mengubah orang menjadi vegetarian, tapi saya mengambil sisi positif saja bahwa Ozeki hanya ingin orang tahu apa sebenarnya yang mereka makan.

Setelah membaca buku ini saya memang sempat enggan makan daging dan berakhir mencari tahu soal industri daging di Indonesia. Dari buku ini, muncul diskusi-diskusi menarik bersama orang-orang terdekat saya, tidak hanya soal industri daging, tapi juga merambah ke peternakan dan pertanian. A really good book to start discussions!

Rating: 4 dari 5 bintang

Filosofi Kopi – Dee

Tadinya membaca kumcer ini karena ada niatan untuk menonton filmnya. Tapi setelah membaca malah jadi malas nonton. “Filosofi Kopi” adalah judul cerpen pertama di buku kumcer ini. Menurut saya sih kalau sebuah cerpen dijadikan judul utama sebuah kumcer harusnya bisa meninggalkan kesan yang kuat. Tapi dalam kasus “Filosofi Kopi” sih nggak. Selesai membaca cerpen “Filosofi Kopi” kata yang keluar cuma satu “kentang.” Dan di situ saya merasa heran kenapa cerpen ini difilmkan.

Beberapa cerpen lainnya cukup menarik, tapi sejujurnya saya cukup kecewa karena selain “Filosofi Kopi” tidak ada lagi cerpen lain yang bertemakan kopi.

Rating: 3 dari 5 bintang

Pesan untuk Kekasih Tercinta: Kumpulan Cerpen Esquire Indonesia #2

Lagi-lagi saya membaca kumcer di akhir pekan. Kumcer ini ringan sekali dan selesai dibaca pagi-pagi sekali sebelum saya bepergian. Semua tokoh utama di kumcer ini adalah pria dan dengan berbagai profesi. Latar tempatnya di perkotaan dengan berbagai intrik dan kerumitan masing-masing tokoh. Saya tidak terlalu ingat cerpen-cerpen yang ada di kumcer ini, kecuali satu yang berjudul “Gang Mawar” dan memberikan aroma bittersweet seperti kota Jakarta.

Rating: 3 dari 5 bintang

Dark Places – Gillian Flynn

Ini adalah novel ketiga Gillian Flynn yang saya baca dan tentunya bertema gelap seperti Gone Girl dan Sharp Objects. Libby Day, wanita usia 30an, memiliki masa kecil yang kelam sebagai saksi pembunuhan atas keluarganya yang dilakukan oleh kakaknya sendiri, Ben Day. Libby yang saat itu masih berusia 7 tahun memberikan testimoni  bahwa Ben adalah pembunuh dari ibu dan dua kakak perempuannya. Ben yang saat itu berusia 15 tahun pun dinyatakan bersalah dan dihukum seumur hidup.

Sejak kejadian tersebut, hidup Libby timpang. Setelah selama ini hidup dari uang donasi yang terkumpul selagi ia kecil, sekarang ia harus menghadapi kenyataan bahwa uang yang tersisa hanya bisa membuatnya bertahan hidup kurang dari sebulan. Dalam kondisi tersebut, ia dihubungi oleh Killer Club, sebuah club yang mencoba memecahkan misteri dalam kasus pembunuhan. Killer Club meminta Libby untuk berpartisipasi memecahkan pembunuhan keluarganya dengan kompensasi tertentu yang akhirnya disetujui Libby. Hal ini yang kemudian membuat Libby harus kembali ke masa lalunya dan mempertanyakan kebenaran dari testimoninya mengenai Ben sebagai pembunuh keluarganya.

Dibanding Gone Girl, Dark Places lebih slow pace dan sedikit membosankan di awal-awal. Di bab-bab berikutnya banyak detail dari masa lalu yang harus diperhatikan. Sama seperti tokoh-tokoh dalam novel Flynn lainnya, tokoh utama tidak likeable dan sulit rasanya benar-benar berempati padanya. Tapi, seperti biasa, Flynn selalu berhasil membawa hal-hal tak terduga dari si tokoh utama.

Rating: 3,5 dari 5 bintang