Reading Life: February

Buku apa saja yang sudah saya bereskan selama Februari? Nggak ada. Iya, saya nggak selesai baca buku sama sekali, hahahaha. Selesainya baca komik 😆

Emang parah banget sih Februari lalu. Padahal habis ambil block leave yang mestinya banyak waktu untuk membaca, tapi akhirnya ya gitu deh 😆 Jadi, bukannya ada daftar buku yang telah dibaca, adanya cuma buku yang sedang dibaca. Nggak banyak sih, cuma dua saja dan itupun dengan kemajuan yang sangat lambat.

Arthur & George – Julian Barnes

Arthur & George

Buku ini saya baca sejak akhir Januari lalu. Dari 385 halaman, saya baru membaca kurang lebih 40an halaman saja. Soooo sloooow 😛 Dibaca karena iseng diambil dari tumpukan yang agak berdebu. Buku ini sudah “nangkring” di tumpukan sejak November 2013 dan sama sekali belum pernah dibaca. Dulu dibeli karena faktor penulisnya yaitu Julian Barnes yang gaya menulisnya membuat saya terpikat.

Sejauh saya membaca buku ini (yang sebenarnya baru sedikit banget sih), buku ini bercerita tentang kehidupan dua orang yaitu Arthur dan George. Arthur dan George berasal dari latar belakang yang berbeda dan juga memiliki pandangan dalam hidup yang berbeda. Jika kehidupan Arthur digambarkan cukup cepat dari proses ia remaja, dewasa, sampai pada akhirnya menikah, kehidupan George digambarkan dengan lebih lambat dan lebih detail di masa-masa ia sekolah.

Alurnya menarik dan gaya menulisnya ciamik. Satu-satunya yang menghalangi saya menyelesaikan buku ini adalah karena saya sering terdistraksi komik :mrgreen:

A Wild Sheep Chase – Murakami Haruki

A Wild Sheep Chase

Saya sebenarnya lupa kapan, di mana, dan mengapa saya membeli buku ini. But, well, whatever, toh saya memang suka Murakami. Selidik punya selidik ini adalah buku ketiga dari The Rat Series, seri buku yang sebenarnya jalan ceritanya berdiri sendiri tapi punya kesamaan dengan adanya The Rat. Sebelumnya saya sudah membaca buku keempat dari seri ini yaitu Dance Dance Dance dan menikmatinya.

Seperti biasa, Murakami selalu punya khas dalam ceritanya. Tokohnya adalah seorang narator tak bernama yang menceritakan hidupnya, hubungannya dengan rekan kerjanya, kekasihnya yang seorang model telinga, dan titik yang mempertemukannya dengan pria misterius yang memintanya mencari seekor domba dengan tanda bintang.

Dari 299 halaman, saya sudah membaca sampai ke halaman 135 sejak awal Februari. Alur lambat dan ada detail yang sedikit membingungkan jika tidak dibaca dengan jeli. Saya sempat bingung di bab tertentu apakah si narator atau The Rat yang sedang bercerita. Tapi, semua itu tertutupi dengan detail observasi dan ide yang tidak biasa (sejak kapan juga Murakami punya ide yang super biasa?) Kemungkinan besar, buku ini akan selesai di minggu pertama Maret ini. Kalaupun tidak, berarti ada buku lain yang mendistraksi saya dari kisah pencarian domba ini.

Levels of Life

“You put together two things that have not been put together before. And the world is changed. People may not notice at the time, but that doesn’t matter. The world has been changed nonetheless.”

IMG_0277

Levels of Life, buku terbaru Julian Barnes, dibuka dengan kalimat yang saya kutip di atas. Saya bingung dalam mengkategorikan buku ini, karena buku ini campuran antara sejarah, fiksi, dan memoir.

Levels of Life adalah buku mungil dengan jumlah halaman hanya 117 saja. Ada tiga bagian dalam buku ini yaitu, The Sin of Height, On the Level, dan The Loss of Depth. Seperti kalimat pembukanya, buku ini bercerita tentang dua hal yang disatukan yang sebelumnya belum pernah disatukan. Balon dan fotografi. Fred Burnadby dan Sarah Bernhardt. Cinta dan nestapa.

“Every love story is a potential grief story.”

Dari tiga bagian dari Levels of Life, saya merasa The Loss of Depth adalah bagian inti dari buku ini, meskipun sebenarnya tiga bagian tersebut tidak terkait langsung. The Loss of Depth adalah memoir Julian Barnes sepeninggal istrinya, Pat Kavanagh. Di bagian ini bisa terlihat bagaimana Barnes mencintai istrinya dan bagaimana terpukul dirinya sepeninggal istrinya. Bahagia, manis, pedih, sedih, haru, dan putus asa tercampur semua dalam The Loss of Depth. Dan kesedihan kali ini bukan fiksi, bukan cerita yang ia tulis dari imajinasinya, tapi kesedihannya sendiri. Entah bagaimana perasaannya waktu menulis buku ini, saya yang sekadar baca saja perasaannya remuk redam 😦

“Love may not lead where we think or hope, but regardless of outcome it should be a call to seriousness and truth. If it is not that – if it is not moral in its effect – then love is no more than an exaggerated form of pleasure.”
― Julian Barnes, Levels of Life

Judul : Levels of Life
Bahasa : Inggris
Pengarang : Julian Barnes
Penerbit : Vintage
Terbit : 3 April 2014
Tebal : 117 halaman
Harga : IDR 142,000.00