Reading Life: March

Kehidupan membaca saya semakin terseok-seok karena kegiatan sosial yang semakin demanding. Saya yang biasanya membaca di malam hari sepulang kerja atau sebelum tidur, sekarang merasa kesulitan untuk melakukannya karena saya sekarang pulang lebih malam atau keburu kelelahan dan ingin segera tidur. Membaca pagi hari pun semakin jarang dilakukan, apalagi siang hari saat jam makan siang. Akhirnya status Goodreads saya pun selalu tertinggal beberapa buah buku dari jadwal seharusnya -____-

Selama Maret, akhirnya saya sukses menyelesaikan membaca tiga buku.

A Wild Sheep Chase – Murakami Haruki

Buku ini saya baca sejak akhir Februari dan akhirnya selesai di minggu pertama Maret. Sekilas tentang buku ini sempat saya tulis di postingan Februari. Di bagian-bagian akhir saya cukup suka dengan The Rat dan lebih punya emotional attachment dengannya ketimbang dengan si narator. Secara keseluruhan, bukunya cukup oke, tapi ga terlalu memikat seperti buku Murakami lainnya.

Rating: 3 dari 5 bintang

Fortunately, the Milk – Neil Gaiman (US Edition, illustrated by Skottie Young)

Buku yang ringan dan menyenangkan. Bercerita tentang seorang ayah yang menghabiskan waktu terlalu lama saat membeli susu ke toko pojok. Saat ia pulang, ia bercerita ke anaknya kalau ia pergi cukup lama karena tiba-tiba banyak hal terjadi padanya, termasuk bertemu dengan Profesor Stegosaurus yang bepergian dengan balon udara.

Sungguh buku ringan yang menyenangkan! Saya jatuh hati pada sang ayah yang kreatif nan jago ngeles. Anyway, selama membaca buku ini, saya terus menerus membayangkan sosok sang ayah adalah Neil Gaiman sendiri. Gambarnya pun mirip sih, pakai pakaian hitam dengan rambut berantakan 😆

Rating: 4 dari 5 bintang

Sang Golem dan Sang Jin – Helene Wecker

Buku ini dibeli secara impulsif saat saya berada di toko buku sembari menunggu teman saya datang dan saya sama sekali ga menyesal membeli buku ini. Memang agak sedikit gambling kalau membeli buku terjemahan, karena khawatir terjemahannya aneh dan mengurangi kenikmatan membaca. Tapi, buku ini diterjemahkan dengan baik dan luwes oleh Lulu Fitri Rahman.

Sang Golem, Chava, kehilangan tuannya di laut dan ia pun menjadi tak bertuan dan kehilangan arah tujuan. Sementara itu, Sang Jin, Ahmad, terikat dalam sosok manusia dan tak mampu mengingat mengapa ia berada dalam sosok tersebut. Keduanya berusaha menjalani kehidupan ala manusia meskipun jiwa mereka menginginkan hal lain.

Premis ceritanya menarik dan ditulis dengan gaya bahasa yang memikat. Terlepas dari valid atau tidaknya, banyak hal baru yang saya pelajari dari buku ini. Dan yang paling berkesan untuk saya dari buku ini adalah meski tokoh utamanya bukan manusia, tapi mereka terasa manusiawi sekali.

Rating: 4 dari 5 bintang

Advertisements

Reading Life: February

Buku apa saja yang sudah saya bereskan selama Februari? Nggak ada. Iya, saya nggak selesai baca buku sama sekali, hahahaha. Selesainya baca komik 😆

Emang parah banget sih Februari lalu. Padahal habis ambil block leave yang mestinya banyak waktu untuk membaca, tapi akhirnya ya gitu deh 😆 Jadi, bukannya ada daftar buku yang telah dibaca, adanya cuma buku yang sedang dibaca. Nggak banyak sih, cuma dua saja dan itupun dengan kemajuan yang sangat lambat.

Arthur & George – Julian Barnes

Arthur & George

Buku ini saya baca sejak akhir Januari lalu. Dari 385 halaman, saya baru membaca kurang lebih 40an halaman saja. Soooo sloooow 😛 Dibaca karena iseng diambil dari tumpukan yang agak berdebu. Buku ini sudah “nangkring” di tumpukan sejak November 2013 dan sama sekali belum pernah dibaca. Dulu dibeli karena faktor penulisnya yaitu Julian Barnes yang gaya menulisnya membuat saya terpikat.

Sejauh saya membaca buku ini (yang sebenarnya baru sedikit banget sih), buku ini bercerita tentang kehidupan dua orang yaitu Arthur dan George. Arthur dan George berasal dari latar belakang yang berbeda dan juga memiliki pandangan dalam hidup yang berbeda. Jika kehidupan Arthur digambarkan cukup cepat dari proses ia remaja, dewasa, sampai pada akhirnya menikah, kehidupan George digambarkan dengan lebih lambat dan lebih detail di masa-masa ia sekolah.

Alurnya menarik dan gaya menulisnya ciamik. Satu-satunya yang menghalangi saya menyelesaikan buku ini adalah karena saya sering terdistraksi komik :mrgreen:

A Wild Sheep Chase – Murakami Haruki

A Wild Sheep Chase

Saya sebenarnya lupa kapan, di mana, dan mengapa saya membeli buku ini. But, well, whatever, toh saya memang suka Murakami. Selidik punya selidik ini adalah buku ketiga dari The Rat Series, seri buku yang sebenarnya jalan ceritanya berdiri sendiri tapi punya kesamaan dengan adanya The Rat. Sebelumnya saya sudah membaca buku keempat dari seri ini yaitu Dance Dance Dance dan menikmatinya.

Seperti biasa, Murakami selalu punya khas dalam ceritanya. Tokohnya adalah seorang narator tak bernama yang menceritakan hidupnya, hubungannya dengan rekan kerjanya, kekasihnya yang seorang model telinga, dan titik yang mempertemukannya dengan pria misterius yang memintanya mencari seekor domba dengan tanda bintang.

Dari 299 halaman, saya sudah membaca sampai ke halaman 135 sejak awal Februari. Alur lambat dan ada detail yang sedikit membingungkan jika tidak dibaca dengan jeli. Saya sempat bingung di bab tertentu apakah si narator atau The Rat yang sedang bercerita. Tapi, semua itu tertutupi dengan detail observasi dan ide yang tidak biasa (sejak kapan juga Murakami punya ide yang super biasa?) Kemungkinan besar, buku ini akan selesai di minggu pertama Maret ini. Kalaupun tidak, berarti ada buku lain yang mendistraksi saya dari kisah pencarian domba ini.