Kitchen

image

Aku tidak bisa tidur di tempat lain selain dapur.

Mikage Sakurai kehilangan orang tuanya sejak kecil. Sejak itu, ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Saat SMP, kakeknya meninggal dan ia hanya tinggal berdua saja dengan neneknya. Selama tinggal berdua dengan neneknya, ia terkadang khawatir bahwa neneknya akan meninggal. Kemudian kekhawatiran itu pun menjadi nyata. Neneknya meninggal dan Mikage menjadi hilang arah. Ia tidak bisa tidur di kamarnya. Ia pun mencari-cari tempat agar bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya ia mendapati bahwa ia bisa tidur dengan lelap di dekat kulkas yang mendengung mengusir sepi di benaknya.

Mikage merasa bahwa apartemen yang pernah ia tinggali bersama neneknya tersebut terlalu luas dan membuatnya merasa sepi teramat dalam. Ia memutuskan untuk pindah ke apartemen yang lebih kecil. Suatu sore di musim semi yang mendung, Yuichi Tanabe, staf toko bunga langganan neneknya datang berkunjung dan meminta Mikage untuk bertamu ke rumahnya. Sore itu yang kemudian membawa Mikage masuk ke dalam kehidupan Yuichi Tanabe dan ayahnya yang bertransisi menjadi wanita bernama Eriko Tanabe.

—-

Sudah sejak lama saya ingin membaca “Kitchen” tapi entah mengapa saya seringkali lupa untuk membeli bukunya. Sampai akhirnya Sabtu lalu, saat saya sedang berkeluyuran sore di Blok M, saya tidak sengaja menemukan buku ini dan membelinya tanpa berpikir panjang. Minggu sore saya mulai membacanya dan tidak bisa berhenti hingga waktu bergerak ke Senin dini hari.

Saya bukan orang yang mudah menangis dan saya jarang sekali menangis karena film ataupun buku. Tapi, malam itu saya menangis karena “Kitchen”. Entah karena saya sedang terlalu sensitif (yang sebenarnya juga jarang terjadi) atau memang kisah Mikage ini menyedihkan, yang jelas saya menangis dan merasa pedih membaca buku ini.

Ini kali kedua saya membaca buku Banana Yoshimoto dan saya akui “Kitchen” jauh lebih bagus dari “The Lake.” Sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang orang pertama dari sisi Mikage dan itu membuat saya bisa berempati dengannya saat ia pada akhirnya kehilangan keluarga satu-satunya.Narasinya begitu indah dan mengalir. Saya pun suka bagaimana sosok Yuichi dan Eriko digambarkan.

Saya suka sekali bagaimana cerita dibuka dengan satu pernyataan Mikage tentang kesukaannya terhadap dapur. Perkembangan cerita dan hubungan antara Mikage dan Yuichi digambarkan dengan perlahan dan manis, tapi tidak terlalu mendayu. Untuk endingnya, saya sungguh puas dan meskipun terkesan subtil tapi bagi saya itu sangat pas sekali untuk mereka berdua.

Sebenarnya selain “Kitchen” di buku tersebut juga ada cerita lain berjudul “Moonlight Shadow” yang menceritakan Satsuki, perempuan usia 20 tahun, yang kehilangan kekasihnya, Hitoshi. Premisnya sederhana, tapi lagi-lagi, Banana Yoshimoto bisa menyajikannya dengan manis dan getir di saat bersamaan. Membaca keduanya memang sedikit membuat depresi, tapi sungguh penceritaannya begitu indah dan manis. Dan terakhir, saya akui, kualitas terjemahannya bagus sekali. Sekiranya tidak diterjemahkan dengan apik, mungkin pengalaman membacanya tidak akan semengesankan ini.

Untung dan sial adalah hal biasa, tapi mempercayakan diri kepada peruntungan semacam itu adalah sikap manja. Berpikir seperti itu pun kepedihan tidak akan berkurang. Setelah menyadari hal itu, meskipun ingin menolak aku telah menjadi orang dewasa yang bisa terus menjalani kehidupan ini dengan menerima kejadian buruk. Walaupun demikian hidup memang tidak mudah. – Kitchen, Banana Yoshimoto.

Judul : Kitchen
Bahasa : Indonesia
Pengarang : Banana Yoshimoto
Penerbit : KPG
Terbit : April 2009
Tebal : 204 halaman
Harga : IDR 20,000.00 (Bursa Buku Murah Blok M)